Selasa, 04 Desember 2012

Alfi - Memoar Sang Mawar Liar

Hari minggu yang cerah,

Lila membetulkan letak maskernya. Ia tak ingin debu yang bertebaran di setiap sudut ruangan terhirup masuk kehidungnya. Semuanya masih tertata seperti dulu. Lembaran kain lebar berwarna putih menutupi setiap perabotan yang ada di setiap ruangan. Hanya ada 2 buah kamar dengan masing-masing kamar mandi. Satu buah ruang tamu, satu buah ruang keluarga. Plus dapur merangkap ruang makan dan sebuah ruang kecil buat gudang. Rumah ini memang mungil namun nyaman. Rumah yang dibeli Lila dengan uang hasil keringatnya sendiri selama ia praktek sebagai dokter. Sudah beberapa bulan sejak ia menikah ia tak lagi tinggal di rumah ini karena Robert telah memboyongnya tinggal di aparteman mewah miliknya. Saat ini kehamilannya sudah memasuki bulan kelahiran. Namun itu sama sekali tak mempengaruhi penampilannya. Paras Lila tetap saja memancarkan kecantikan yang sulit dicari pembandingnya. Perutnya yang membuncit dipadu dengan gaun babydoll membuatnya terlihat sexy menggemaskan namun tetap anggun dipandang.
“Jangan lupa maskermu, Lid” ujarnya mengingatkan Lidya adiknya.
“Ya kak”ujar Lidya berjalan mengiringi kakaknya memeriksa setiap ruangan. Lidya sendiri tak jauh berbeda dengan sang kakak. Dianugrahi wajah menawan. Tubuh tinggi semampai dan porposional. Kulitnya putih bersih bak pualam merupakan dambaan kaum wanita. Hanya sifatnya saja yang berbeda dengan Lila.  Sebagai anak sulung yang sejak remaja harus ikut memikul tanggung jawab bagi keluarga, Lila tumbuh menjadi sosok yang tegar, tegas dalam mengambil keputusan, sangat disiplin namun sangat pengalah terhadap sang adik satu-satunya itu. Sedangkan Lidya si bungsu adalah gadis yang manja, gampang merajuk, jelas tak mau mengalah namun sangat mengidolakan sang kakak tersayangnya itu.
“Engkau benar-benar yakin ingin tinggal di sini? Apa tak sebaiknya engkau tinggal bersama kami di apartement saja?”Tanya Lila.
“Kak.. kan sudah berulang kali Lidya katakan bahwa Lidya ingin belajar mandiri seperti halnya kakak. Selain itu Lidya tidak ingin merepotkan kakak dan kak Robert.”
“Hmmm…Aku hanya tak ingin engkau tinggal seorang diri di sini mengingat dirimu seorang wanita”
“Kakak tidak usah kuatir. Lidya bisa menjaga diri kok. Lagian bukankah dulu kakak juga tinggal seorang diri di rumah ini?”ujar Lidya berusaha meyakinkan kakaknya.
Semua ini berawal dari kepindahan Lidya ke kota S ini. Bank tempat Lidya bekerja baru saja membuka sebuah kantor cabangdi sini. Lidya terpilih menjadi salah satu karyawan yang dipercaya untuk ikut mengembangkan cabang baru tersebut.Rencananya dalam beberapa hari lagi mereka akan melakukan Grand Opening bagi khalayak umum. Dan kebetulan sekali jarak rumah ini dengan kantor baru Lidya juga tak jauh. Hanya sekitar 2 km saja. Dan itu masih berada dalam satu jalur angkutan umum.

"Kakak ingat teman kuliahku dulu, si Sabrina?" tanya Lidya
Mata Lila melirik ke atas sejenak saat mencoba memutar ingatannya. Seraut wajah yang lebih mirip bule ketimbang indo itu terbayang kembali di benaknya.
"Engg...Sabrina yang indo itu-kan?"tanyanya memastikan.
"Iya dia!. Sabrina juga bekerja di bank yang sama denganku. Namun tak kusangka kami bisa bertemu lagi di kota ini bahkan secara kebetulan kami di tempatkan di divisi yang sama"ujar Lidya tak dapat menyembunyikan rasa girangnya.
"Apakah dia sudah menikah?"
"Ha ha ha kakak ini! Si Sabrina menikah? Jangankan memikirkan menikah. Pacaranpun selalu berganti setiap bulannya. Dia itu masih tetap Sabrina yang kakak kenal dulu. sexy, liar, dan tak jelas apa yang ia cari" ujar Lidya sambil mengenang saat-saat kebersamaannyadulu dengan sahabat karibnya itu.
“Kalau begitu ajak saja dia tinggal di sini buat menemanimu”
"Jadi kakak tidak keberatan aku mengajak si Sabrina tinggal di sini?"
"Tentu saja boleh. Asalkan dia berjanji tak membawa teman prianya kemari."
"Hi hi dia tak bakal melakukan itu demi memandang persahabatan kami. Kebetulan dia tiba hari ini jadi aku bisa langsung mengajaknya kemari"
“Hmm Syukurlah. Setidaknya aku tak lagi kuatir karena ada seseorang yang menemanimu di rumah ini”
"Wuiiihhh! Senangnya... akhirnya kami bisa bersama lagi seperti dulu"ujar Lidya sambil melonjak-lonjak kegirangan bak anak kecil baru mendapat hadiah yang ia idam-idamkan..
"Senang sekali engkau rupanya" ujar Lila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang masih kekanak-kanakan itu..
"Wajarlah kak. Kami kan cukup lama berpisah. Dia itukan satu-satunya sahabat karibku. Pastinya kakak dan kak Niken juga demikian, kan?"
"Aku cuma heran apa sih yang membuat kalian sebegitu cocok padahal sifat kalian satu sama lain sangatlah berbeda. Sabrina begitu liar dan meledak-ledak sedangkan engkau justru kebalikannya" ujar Lila.
Wajar saja bila ia merasa heran sebab memang begitu banyak perbedaan di antara Lidya dan Sabrina. Bahkan dalam urusan memilih teman pria sekali-pun. Bila Lidya hanya pernah berpacaran dengan Rendy seorang. Sabrina justru berulang kali kali bergonta-ganti pacar. Mungkin jumlah lelaki yang pernah menjadi kekasihnya mencapai lusinan. Ibarat bunga Lidya bagaikan sekuntum mawar putih yang tumbuh di dalam sebuah taman yang tertata dan terawat. Sedangkan Sabrina ibarat sekuntum mawar merah yang tumbuh liar di hutan. Namun keduanya sama-sama menggiurkan dan membuat hasrat para kumbang menggelora untuk mencicipi  sari madunya.

"Betul kami berbeda dalam banyak hal, meski demikian kami tak pernah memaksakan keinginan kami satu sama lain. Contohnya bila dia ingin dugem atau sejenisnya ia tak pernah mempengaruhiku buat melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Demikian juga sebaliknya aku tak pernah mencela apapun yang ia lakukan. Mungkin karena hal itu yang justru membuat persahabatan kami langgeng. Selain itu masih banyak hal yang membuat kami cocok satu sama lain"
"Oya, Lid..Sekalian saja undang dia buat makan malam bersama kita"
"Sebenarnya akupun  sudah memikirkan hal itu hanya saja aku tak ingin ada orang lain selain kita."ujar Lidya sedikit memberikan tekanan pada kata ‘kita’.
"Lho, memangnya siapa orang yang engkau maksud selain ‘kita’ itu?" kening Lila langsung mengerenyit menangkap sedikit ganjalan dari ucapan Lidya barusan.
"Ya ga ada. Aku ingin cuma Kak Lila, kak Robert, aku dan Sabrina saja yang makan malam nantinya"
"Hmmm…Aku mengerti sebenarnya maksudmu, Lid"
"Mengerti apa? Maksudku ya itu... "
“Pasti yang engkau maksud adalah Alfi kan?” tanya Lila
Lidya tak menjawab. Wajahnya cemberut hanya memainkan kancing blousenya. Ia tak menduga Lila bisa menebak dengan cepat apa yang ada di dalam pikirkannya.
“Hhhhhh! Tak kusangka ternyata dirimu masih saja membencinya”ujar Lila menghela napas.
“Aku tidak suka padanya sebab dia telah memperkosa kakak dan menyebabkan kakak hamil, Itu saja!”
“Hhhh…Bukankah semuanya juga sudah tahu jika Eric dan begundalnya yang berniat memperkosaku karena cintanya kutolak. Dan kehamilanku diakibatkan oleh Robert. Bukannya anak itu”
“Kakak mungkin bisa mengelabuhi ibu soal hubungan kakak dengan anak itu. Tapi tidak padaku." ujar Lidya.
“Memangnya bagaimana menurutmu sebenarnya hubungan kami?” pancing Lila. Ia ingin tahu sejauh mana Lidya mengetahui hubungannya dengan Alfi.
“Lidya tahu semuanya, kak. Lidya tanpa sengaja mendengar pembicaraan kakak dengan kak Niken. Kak Eric memang telah gagal menjahati kakak tetapi justru anak itu yang mendapat kesempatan melakukannya. Dari situ pula aku tahu jika kehamilan kakak di sebabkan oleh anak itu”.
“Engkau seperti yakin sekali dengan semua ucapanmu, Lid”
“Tentu saja sebab aku punya bukti. Aku pernah melihat sendiri saat kakak dan anak itu bercumbu di rumah kita di kota H.”

Lila akui ia memang sering bertindak ceroboh bila sudah berdekatan dengan Alfi. Untung saja bukan ibu mereka yang melihat hal itu. Dulupun ia melakukan kecerobohan yang serupa sehingga Robert akhirnya mengetahui hubungan antara dirinya dan Alfiuntuk pertama kali.
“Baiklah jika engkau sudah mengetahuinya. Namun kejadian sebenarnya tidak sepenuhnya seperti yang engkau pikirkan. Itu adalah murni sebuah kecelakaan dan aku sudah memaafkannya"
“Lantas jika hanya kecelakaan mengapa sampai sekarang kakak masih juga menjalin hubungan dengannya.”
“Aku terlanjur memiliki sebuah ikatan yang kuat dengan dirinya”
“Tetapi sekarang kakak sudah menikah dengan kak Robert dan menurutku itu sebuah perselingkuhan, kak!”
"Aku beruntung bertemu dan menemukan suami macam Robert"
"M maksud kakak?! Kak Robert tahu soal hubungan kakak dengan anak itu?"Tanya Lidya kaget. Dalam benaknya menduga-duga.
Lila hanya mengangkatbahunya sambil tersenyum.
"Kakk?" kejar Lidya penasaran. Ia tak mengerti akan isyarat tubuh Lila itu. Semuanya masih sangat membingungkan. Ia sangat ingin jawaban langsung dari mulut Lila akan pertanyaannya tadi. Tetapi Lila tetap tak menjawab. Ia justru berjalan ke arah kamar bekas miliknya. Lidya mengiring dari belakang. Hhh… Lila mendesah. Kamar ini juga  pernah menjadi saksi bisu bagi percintaan panasnya dengan Alfi sebelum ia menikah dengan Robert.
"Kak,apakah kakak sudah menyiapkan nama bagi keponakanku?" tanya Lidya. Sepertinya ia sudah menyerah buat mencari tahu lebih dalam info tentang hubungan kakaknya dan Alfi.
"Lho, engkau masih mau mengakui dia sebagai keponakanmu?" Goda Lila.
"Ahh kakaaaak! Dia itukan tetap keponakanku. Putri dari kakak yang kusayangi, cucunya ibu. Tak ada yang bisa merubah itu" Ujar Lidya sambil memeluk kakaknya.
"Syukurlah bila demikian.Soal nama buatnya kami masih memikirkannya" jawab Lila.
Sebenarnya ia sudah memiliki nama buat bayinya. Sebuah nama yang mengikat nama kedua ibu dan ayah kandung dari anak itu. Fily. Namun Lila tak ingin Lidya berspekulasi mengenai asal usul nama itu dan hanya akan mengundang perdebatan baru yang tidak perlu diantara mereka. Memang saat ini sudah memasuki bulannya bagi Lila bersalin. Dalam minggu ini juga ibu mereka akan datang untuk menanti kelahiran cucu pertamanya itu

#######################
Lusanya di suatu pagi, di tempat yang sama.


"Hei! Mau apa kamu kemari?!" tanya Lidya ketus. Ia merasa begitu terganggu dengan kedatangan Alfi ke situ.
"Eng..tadi Alfi diminta mampir kemari sama kak Lila buat menyerahkan beberapa anak kunci dan stroke rekening listrik. Sekalian siapa tahu ada yang bisa Alfi bantu-bantu di sini" jawab Alfi santun. Ia tahu jika Lidya tak suka kepada dirinya. Namun ia tetap rela melakukan tugas ini demi Lila.
“Kemarikan!” ujar Lidya merebut kunci-kunci tersebut dari tangan Alfi.
Matanya melirik ke arah kardus-kardus besar di sudut garasi. Sejenak ia berpikir. Biar saja anak itu yang mengerjakan, pikir Lidya. Dengan begitu paling tidak ia dan Sabrina tak perlu capek lalu...
"Tuh! Angkat dan susun rapi kotak-kotak itu!. Habis itu geser lemari besar itu. Aku tak ingin benda itu ada di pojok sana. Jika sudah selesai bilang padaku. masih banyak yang harus dibereskan di rumah ini" ujarnya..
“Baik kak" jawab Alfi patuh.Alfi berusaha keras menjaga sikapnya. Namun saat itu ada hal lain yang lebih mengganggu buatnya ketimbang sikap ketus Lidya kepadanya yaitu kondisi Lidya yang saat itu hanya memakai kaus putih ketat dan celana pendek. Jantung Alfi berdetak lebih cepat tatkala matanya menatap sekilas ke arah bukit kembar di dada Lidya. Grrrrrrttt!! Benda itu...begitu bagus. Bulat dan tinggi. Meski samar-samar ujung runcing puting susunya terlihat menekan kaus putihnya. Tak hanya itu kedua batang paha Lidya yang berkulit putih bersih itu nampak begitu bercahaya. Adik dokter Lila ini memang sangat cantik seperti halnya sang kakak. Cuma sayangnya tak ada keramahan sedikitpun dari gadis itu buat dirinya.
“Ada tamu, Lid?” tanya seorang yang muncul dari arah dalam rumah.
Duh!! Apalagi ini!? Alfi membatin.Ternyata yang baru muncul itu adalah seorang gadis bertubuh tinggi semampai. Parasnya itu....Aduhaiii cantiknya!. Padahal yang ia lihat saat itu adalah wajah tanpa polesan make-up. Jika Lidya menonjolkan kecantikan oriental yang menggemaskan maka gadis yang satu ini adalah perpaduan barat dan timur yang sempurna. Alfi tak tahu warna pirang pada rambutnya serta bola mata biru itu adalah asli atau bukan. Yang pasti semua itu terlihat begitu serasi. Yang semakin membuat perasaan Alfi tak karuan adalah karena gadis itu juga mengenakan pakaian yang mengusik hasratnya sebagaimana halnya Lidya. Lekuk tubuhnyapun bukan main.....! Pinggulnya yang padat terlihat begitu indah ketika dipadu pinggang yang meramping menjadikannya laksana sebuah jam pasir hidup. Dan.....Ohhhhh! Alfi mendesis saat menatap ke arah dada gadis itu. Ukurannya mampu membuat lelaki manapun kehilangan akal sehatnya. Bayangkan tank top itu seakan tak mampu menampungnya.
“O..Bukan. Dia ini cuma suruhan-suruhannya kak Lila buat ngebantu kita, Rin!.”jawab Lidya seenaknya kepada gadis yang tak lain adalah Sabrina itu.
“Baguslah kalau begitu. Tadinya aku juga sempat berpikir untuk mencari bantuan seseorang”ujar Sabrina.
“Hei!! Kamu ngapain masih bengong di situ!. Cepetan mulai. Entar keburu sore!”  hardik Lidya pada Alfi yang memang masih bengong terkesima memandangSabrina.
“I.iya kak” jawab Alfi agak gelagapan.
Cepat-cepatia mengalihkan pandangannya dan berusaha menguasai dirinya. Untungnya kedua gadis itu tak menyadari kebodohannya barusan. Ia tak ingin membuat Lidya semakin meradang terhadap dirinya.

Dalam hati Alfi mengeluh. Mengapa ia selalu saja di tempatkan pada situasi seperti ini? Mengapa di sekitarnya selalu berseliweran bidadari-bidadari molek seperti ini? Sejak kejadian tak mengenakan akibat munculnya Paijo dalam kehidupan asmaranya dengan beberapa kekasihnya tempo hari telah membuat ia kapok menelantarkan salah satu dari mereka dan membuatnya bertekat tak ingin lagi terlibat dalam hubungan asmara dengan wanita lain selain dengan kelima wanita yang telah mengisi hatinya selama ini.Untuk itu sebisanya ia menghindari hal-hal yang dapat memancing hasrat seksualnya terhadap wanita lain. Setelah berulang kali menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, barulah gelora di hatinya agak mereda. Segera diraihnya sebuah kotak berisikan buku-buku milik Lila. Uhh...ternyata berat juga! Pikir Alfi. Namun memang ini yang ia butuhkan saat ini buat mengalihkan pikiran-pikiran ngeres yang terus bermunculan dibenaknya. Dengan tertatih-tatih dibawanya benda itu ke arah gudang.
“Kok kamu galak sekali, Lid?. Sedang ‘dateng’, Ya?”Tanya Sabrina dengan suara agak berbisik setelah Alfi tak lagi berada di dekat situ..
“Ngga. Emangnya aku cuma bisa galak kalo sedang dapet mens?”
"Bukan begitu maksudku. Tapi tak seharusnya engkau memperlakukan anak itu dengan kasar, Lid. Apalagi dia sendiri yang menawarkan diri buat ngebantu kita "
"Biar dia tahu rasa! Aku memang tidak suka padanya”ujar Lidya meradang. Untung saja saat itu Alfi tengah berada di ruang yang lain yang berjauhan dari mereka sehingga saat itu ia tak mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Lho..lho..Apa masalahnya? Rupanya telah terjadi sesuatu di antara kalian, ya?”pancing Sabrina sambil terus menyusun buku-buku ke sebuah rak.
“Dia itu bajingan yang telah memperkosa kak Lila sekaligus merengut kegadisannya!"
"A..paa!? Yang benar saja Lid!? Anak itu!? Memperkosa kakakmu!?" Sabrina terlonjak kaget mendengar jawaban Lidya tersebut. Ia benar-benar tak menyangka jika masalahnya akan segawat itu.
Ups! Lidya sendiri seakan baru tersadar jika ia sudah keceplosan barusan. Tak seharusnya ia membuka aib itu ke orang lain meski ia yakin Sabrina tak akan mengumbar hal ini kemana-mana. Ia menjadi sangat menyesal karena tak dapat mengontrol emosinya.
“Hmm yaa sudah.. sudah…sebaiknya kita tutup saja omongan ini ya, Lid” ujar Sabrina ketika Lidya terdiam. Ia cukup tahu diri dan mengerti mana urusan yang patut ia ketahui dan yang bukan.
“Ga pa pa Rin. Engkau toh sudah terlanjur tahu jadi kuanggap tak ada salahnya engkaupun tahu secara utuh keseluruhan masalah itu.”ujar Lidya lalu ia mulai menceritakan semua yang ia ketahui tentang hubungan antara Lila dan Alfi.
“Gilaaa Lid!. Tetapi apa benar kejadiannya seperti itu?!”ujar Sabrina ketika Lidya usai menceritakan hal itu.
“Engkau tak percaya padaku?”
“Bukan begitu. Aku hanya merasa aneh saja. Soalnya dari penuturanmu barusan aku justru sama sekali tidak melihat hubungan di antara mereka seperti seseorang pemerkosa dengan korbannya. Malahan justru mereka berdua nampak sangat saling menyayangi satu sama lain”
"Begitulah kenyataannya. Kukira kak Lila tak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah sehingga akhirnya mau saja dijadikan budak seks anak itu!"

Tak masuk akal! Pikir Sabrina. Sungguh dalam hati ia tak sependapat dengan pandangan Lidya itu. Mana mungkin wanita terpelajar dan memiliki kedudukan baik di masyarakat seperti Lila mau saja dijadikan pemuas nafsu anak seperti itu. Apalagi terhadap lelaki yang pernah memperkosanya. Pasti ada penyebab lain yang membuat Lila terperangkap dalam hubungan seperti itu dengan si Alfi. Mungkinkah Lila menjadi korban kejahatan seksual seperti di banyak cerita-cerita? Hanya karena takut rahasianya bakal tersebar luas dia akhirnya harus rela dijadikan pemuas napsu si Alfi. Tapi masa iya anak seusia Alfi sudah punya pikiran selicik itu? Sedangkan penuturan Lidya justru sangat bertolak belakang dengan teori itu. Ataukah mungkinkah...Lila sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki kelainan seksual seperti.... pedofil? Akh! Sulit menemukan jawabannya saat ini. Namun bagi gadis petualang seperti Sabrina ini adalah sebuah kisah nyata yang sangat aneh dan sarat dengan keliaran di dalamnya. Geli juga ia membayangkan bagaimana seorang anak ABG seperti itu bersetubuh dengan seorang wanita dewasa. Lantas.... apakah bercinta dengan pemuda seusia Alfi bisa memberi Lila kepuasan ketimbang melakukannya dengan suaminya sendiri?  Yang benar saja! Tetapi di sisi lain Sabrina-pun tak bisa menyalahkan Lidya. Lidya bisa bersikap demikian karena ia memang belum pernah berhubungan intim alias masih perawan ting-ting. Lidya hanya bisa melihat seks yang terjadi antara Lila dan Alfi sebagai prilaku yang  menyimpang dan menjijikan.
"Apakah iparmu tahu akan hal itu?"
"Aku rasa kak Robert tidak tahu. Bahkan ia juga tak tahu jika istrinya masih terus berhubungan gelap dengan Alfi. Kak Robert adalah seorang suami yang sepadan buat kak Lila. Ia tampan, pandai, baik hati, dan berasal dari keluarga terpandang. Perkawinan mereka bagaikan perkawinan impian bagi banyak orang. Oleh karena itu aku tak ingin perkawinan kak Lila dan kak Robert jadi hancur berantakan gara-gara adanya anak itu!"ujar Lidya berspekulasi mengenai situasi dalam perkawinan Lila karena kakaknya itu sama sekali tak pernah memberinya petunjuk yang jelas.
"Sttt!Sebaiknya kita tak usah ngebahas soal itu dulu. Tak enak ada orangnya di sini. Ntar dia bisa mendengar perkataanmu”ujar Sabrina mengecilkan volume suaranya saat melihat Alfi melintasi garasi buat mengambil kardus..
“Biar saja dia dengar!”
“Sudaaah  Ah! Ayo kita pindah saja ke dalam kamar. Biarkan saja anak itu yang membereskan yang di luar”ajak Sabrina sambil menarik tangan sahabatnya itu.
Untungnya Lidya menurut. Mereka berdua-pun pindah ke dalam kamar.
“Rin, kamu tidur satu kamar denganku saja, ya. Soalnya sekarang ini sedang musim hujan.Engkau kan tahu kalau aku…”pinta Lidya dengan wajah memelas.
“Iya iya!“ sahut Sabrina.
Ia memang tahu sahabatnya itu memiliki phobia akan suara petir dan itu juga menjadikannya takut buat tidur sendirian meski sedang tak hujan sekalipun. Bahkan hingga sekarangpun Lidya masih saja tidur ditemani sang bunda saat di rumah mereka di kota H.

“Eh,ngomong-ngomong mana si Rendy? Seharusnya dia bisa membantu kita di sini" tanya Sabrina memulai topic pembicaraan baru. Sebenarnya ia masih penasaran akan cerita Lidya mengenai Lila dan Alfi namun ia tak ingin Lidya kembali sewot bila membahas persoalan tersebut.
"Dia tidak ikut ke kota S. Dia bilang sedang repot mempersiapkan presentasi seminarnya. Katanya lagi aku harus bisa mengatasi hal-hal kecil seperti ini sendirian agar bila kami menikah kelak kami sudah terbiasa hidup mandiri" ujar Lidya sesekali menghela napas.
"Aduhh tega banget si Rendy! Punya pacar cantik tapi kok malah disuruh nguli" olok Sabrina.
Lidya langsung mencubit pinggang Sabrina. Seketika itu Sabrina langsung terpekik kesakitan.
“Gilaa Lid!. Capitanmu ternyata semakin berbisa saja!” gerutu Sabrina sambil mengelus pinggangnya yang tersengat Lidya tadi. Ia benar-benar lupa akan kebiasaan Lidya yang satu itu  sehingga tak sempat mengelak dari serangan mendadak itu.
“Hi hi hi rasain!”
Lama berpisah semakin membuat mereka tak sabar buat saling bercerita. Sesekali terdengar pula derai tawa mereka berdua.
"Beneran nih? Pilihanmu memang sudah jatuh kepada dia. Nggak bakalan nyesel?" tanya Sabrina
"Kriteria apa lagi sih yang harus kucari?. Sebagian besar sudah ada pada Rendy. Tampang yah lumayan paling tidak ngga malu-maluin. Pekerjaan tetap..ada. Dan kupikir aku juga mencintainya" jawab Lidya.
“Lho kok pake kupikir?! Apakah engkau sendiri masih ragu?”
Lidya hanya mengangkat bahu menandakan ia tak tahu harus menjawab iya atau tidak.
“Sejak dulu sebenarnya aku heran melihat hubungan kalian bisa bertahan sampai begitu lama. Yang engkau sebutkan tadi cuma hal-hal yang positif saja yang ada pada Rendy. Dan setahuku itu jauh lebih sedikit ketimbang sisi negatifnya. Coba ingat-ingat betapa sering aku mendengar kalian ribut besar hanya karena  si 'mr egois' doyan  meributkan hal-hal kecil. Aku juga ingat betapa murkanya dia hanya karena kertas paper-nya tertetes air mineralmu. Satu minggu engkau tak ia tegur gara-gara hal itu. Dan berapa kali ia berlakutak perduli akan kesulitanmu. Bayangkan saja dia lebih mendahulukan mengutak laptop‘antik’-nya ketimbang menjemputmu sehingga engkau harus pulang kuliah kehujanan. Mungkin ada  ratusan kasus lain yang  pernah terjadi di depanku saja"
"Aku juga tak tahu. Yang jelas saat ini aku hanya mencoba menjalaninya semampuku dengan segala perbedaan yang ada di antara kami" jawab Lidya
"Wah..wah..Bener-bener beruntung  tuh Rendy!. Dapet calon istri cantik, bohai, penurut, mandiri dan yang pasti masih perawan ting-ting! Susah banget lho, mencari type istri ideal seperti itu yang masih tersisa di zaman edan gini." cibir Sabrina sambil berlari menjauh karena ia tahu Lidya akan mengulangi cubitannya. Bahkan mungkin lebih keras lagi. Dan benar saja. Tapi meski kali ini ia dapat lolos dari cubitan Lidya namun sebuah bantal yang di lemparkan Lidya tak bisa ia elakan.Tak lama kemudian kembali terdengar derai tawa keduanya. Begitulah keakraban yang terjalin diantara mereka.Mereka terus bekerja menata rumah itu diselingi curhat dan canda.

“Terkadang aku juga sebal melihat kelakuannya itu. Kalau di hitung-hitung kami sudah pacaran sejak kuliah di semester lima. Hmm Yaa. Berarti ini sudah….empat tahun-an namun tabiat buruknya tak juga berubah-ubah!”sungut Lidya
“Jika saja aku adalah juri dari museum rekor pasti kalian sudah kunobatkan sebagai pasangan tak serasi tanpa seks tetapi terawet abad ini!.” Ujar Sabrina terus ngerocos.
"Dasar!Bisanya cuma mengkritik orang saja, Ihh!. Bagaimana denganmu sendiri?."
"Lho, aku-kan wanita single non."
"Maksudku apa hanya karena permasalahan-permasalahan kecil seperti itu maka hubunganmu dengan Hardy akhirnya gagal?” tanya Lidya menyebutkan nama kekasih Sabrina yang tampan dan tajir di kala mereka masih kuliah dulu.Lidya memang hanya mendengar kabar putusnya mereka dari orang lain dikarenakan saat itu ia dan Sabrina sudah bekerja di kota yang terpisah.
"Hhhh…Hardy? Kami memang tidak cocok satu sama lain"jawab Sabrina enteng.
"Cuma itu alasannya? Paling tidak kalian pernah saling mencintai kan?. Apakah itu tidak cukup kuat buat mempertahankan hubungan kalian?"
"Cinta? Ha ha ha.....semua itu cuma Bullshiitt!"
"Rin, aku sungguh tak mengerti?"
"Dia itu cuma salah satu contoh lelaki produk gagal zaman sekarang!. Anak orang kaya yang berharap bisa menggaet lalu meniduri sebanyak mungkin perempuan dengan uang dan fasilitas dari bapaknya. Sejak awal dia tak pernah ada niat menjalin sebuah hubungan yang di dasari oleh cinta dan memiliki tujuan yang sakral yang berakhir pada sebuah pernikahan. Hardy cuma menganggap aku sebagai kekasih yang kapanpun bisa ia depak bila ia sudah merasa bosan dan menemukan ganti gadis yang lebih fresh! Sedangkan aku sendiri sendiri sejak awal memang tak pernah mencintainya dan begitu aku tahu niatnya seperti  itu aku tak terlalu ambil pusing kemana hubungan ini akan bermuara. Yang penting selagi hubungan itu masih memberikan timbal balik yang sepadan buatku maka tetap kujalani saja. Kebetulan aku sangat membutuhkan biaya buat menyelesaikan kuliahku.Mendingan aku terus berpacaran dengan Hardy ketimbang aku dijadikan ‘simpanan’ oleh pria-pria tua berduit. Paling tidak aku tak sampai di cap orang sebagai ayam kampus!”
Lidya terenyuh iba. Ia tahu semenjak kedua orang tua Sabrina meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan, membuat Sabrina harus berjuang sendiri buat bertahan hidup dan menggapai cita-citanya.  Sembari kuliah Sabrina juga bekerja sambilan sebagai seorang foto model buat sebuah majalah fasion remaja. Dia dan Sabrina memang adalah bunganya fakultas ekonomi saat itu. Banyak lelaki yang antri buat menjadi kekasih mereka berdua. Ketika ia menjatuhkan pilihan hatinya kepada seorang kutu buku, sederhana semacam Rendy, Sabrina justru memilih Hardy yang tajir namun playboy.
"Tapi kalian berlaku seolah merupakan pasangan yang serasi.  Selalu menunjukan kemesraan di depan publik. Tak tergoyahkan oleh gosip jenis apa-pun. Bahkan di depanku sekalipun"

"Semuanya palsu Lid. Apakah orang-orang menganggap aku begitu naif?. Menganggap aku tak tahu perbuatan kekasihku berselingkuh  dengan banyak gadis di kampus kita? Jangan katakan jika engkau juga tak tahu semua kelakuan Hardy, Lid"
"Maafkan aku, Rin. Aku hanya tak ingin hubunganmu dengan Hardy menjadi rusak karena aduan dariku". Ujar Lidya.
"Tapi begitulah cepat atau lambat hubungan seperti itu akan kandas juga kan?"
"Padahal kupikir engkau benar-benar tak tahu jika mantanmu itu gemar menyebar pesona ke sana kemari"
"Yah! Dan hebatnya cuma kamu yang tak terjerat oleh rayuan buayanya, Lid. dan itu yang membuatku memilihmu menjadi sahabatku sejatiku. Engkau tak seperti kebanyak teman kita yang lain. mereka justru senang jika melihat aku cek-cok dengan Hardy dan berharap hubungan kami putus. Untuk kemudian mencari cara mendekatinya. Huh!"
Lidya tersipu. Memang bukan hanya satu dua kali, Hardy mencoba mendekatinya. Namun Lidya memang tak pernah memberinya peluang. Ia selalu menolak berduaan dengan pemuda itu tanpa ada Sabrina juga di situ. Selain tak ingin melukai perasaan sahabatnya itu pada dasarnya ia memang tak suka type lelaki semacam Hardy.
"Bagaimana dengan si Roy? Salah satu pacarmu setelah Hardy itu. Di surel-mu engkau katakan jika  ia adalah pemuda baik-baik yang berniat menjalin hubungan yang serius denganmu. Benarkah dia meminta putus kerena orang tuanya tak menyetujui hubungan kalian?"
"Dasar pria munafik! aku lebih menghargai Hardy ketimbang pria seperti itu. Alasan utama kami berpisah adalah karena ia tak bisa menerima jika calon istrinya sudah tidak perawan lagi. Padahal ia sendiri mengetahui hal itu dengan cara melakukan hubungan intim denganku. Saban hari ia terus-terusan mendesakku untuk mengatakan siapa lelaki yang telah mendahuluinya itu.  Hal itu selalu menjadi tema pertengkaran kami. Dan yang paling menjengkelkan lagi ia selalu mengungkit hal itu bila kami berselisih pendapat oleh persoalan lain. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan seorang  pria seperti itu.  Ketimbang dia stress karena terus memikirkan selaput dara-ku dan aku dipusingkan oleh prilaku sok suci-nya itu, mendingan aku putuskan saja untuk berpisah!"
"Jadi engkau yang memutusin si Roy, Rin?
“Ya. Dan itu kulakukan lewat sms saja!."
"Hanya lewat sms?! Edan kamu, Rin! Lantas mengapa engkau diam saja ketika ia menyebarkan kabar bohong mengenai putusnya kalian kemana-mana"
"Biar saja dia melakukan itu buat menjaga harga dirinya. Aku tak perduli soal itu.Yang jelas yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Akulah yang telah meninggalkannya.”
“Pastinya ia juga senang dengan perpisahan kalian sebab dengan begitu ia mendapat kesempatan mencari pengganti yang masih perawan, kan?"
"Ha ha ha! Kamu salah Lid"
"Lho?"

"Ternyata si Roy itu benar-benar seorang pecundang tak berpendirian. Dia menangis seperti anak kecil memohon agar aku mau balikan lagi sama dia namun tentu saja aku tak lagi mengubrisnya.”
"Kupikir wajar saja Roy kecewa sebab kesucianmu sudah diambil si Hardy duluan, Rin"
Kamu salah lagi, Lid!. Kali ini Sabrina mengatakannya hanya di dalam hati. Hardy bukanlah yang pertama baginya namun ia tak mungkin mengatakannya pada Lidya. Karena hal yang satu ini bersifat sangat ‘sensitive’. Hal itu bahkan tak pernah ia ceritakan kepada siapa-pun termasuk kepada Lidya meski mereka telah berteman cukup lama dan akrab. Sejak dulu ia tak yakin Lidya mau menerima dirinya sebagai sahabatnya bila mengetahui masalah itu. Dan kini Sabrina semakin yakin akan hal itu setelah mendengar pengakuan Lidya akan ketidaksenangannya terhadap hubungan Lila dan Alfi.
“Eh..Rin Apakah engkau pernah memikirkan buat menikah?”
"Hi hi kok nanya seperti itu?”
“Maksudku, type pria macam apa yang engkau cari sih, Rin? Soalnya kulihat engkau tak pernah serius menjalin hubungan dengan seseorang. Paling lama bertahan satu bulan lantas bubaran.”
“Hhhh…” Sabrina menghela napas dalam. “Sebenarnya akupun mendambakan hadirnya seorang yang akan selalu menyayangiku dan melindungiku. Hanya saja aku belum menemukannya. Mencari seorang pria yang berniat membina sebuah hubungan secara serius dan mau menerima keadaan diriku apa adanya bukanlah sebuah hal yang gampang! Sejak hubunganku dengan Roy gagal, aku jadi tahu apa yang sebenarnya di cari oleh kebanyakan kaum lelaki. Ternyata sebagian dari mereka hanya menginginkan seks semata dalam sebuah hubungan sedangkan yang lainnya menuntut sebuah kesempurnaan bagi wanita yang bakal menjadi istrinya.Dan sejak itu pula, aku tak pernah lagi mau memberikan tubuhku kepada setiap pria yang menjadi kekasihku hingga sekarang. Oleh sebab itu pula maka kisah asmaraku tidak pernah awet!”.
Dalam hati Lidya membenarkan ucapan Sabrina barusan. Contohnya saja Rendy. Kekasihnya itu juga menuntut secara mutlak sebuah kesucian bagi calon istrinya pada saat menikah padahal belum tentu ia sendiri masih perjaka. Itu merupakan keuntungan bagi kaum lelaki yang juga menjadikan mereka makhluk egois sejak dulu.
“Rin, kamu bisa gunakan rak yang itu. Aku ambil yang dekat jendela saja” ujar Lidya mulai menyusun barang-barang miliknya.
Sabrina-pun melakukan hal sama. Satu persatu benda miliknya ia keluarkan dari kardus. Hingga suatu ketika ia tertegun saat memegang sebuah buku diary miliknya. Benda ini selalu ikut kemanapun ia pindah selama bertahun-tahun. Namun sekian lama tak pernah satu kali-pun ia buka lagi. Benda yang menyimpan banyak kenangan indah termasuk kepahitan dalam hidupnya.. Ia menoleh ke arah Lidya. Dilihatnya sahabatnya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Perlahan dibukanya halaman demi halaman. Ia-pun mulai membaca kalimat demi kalimat dalam hati.

####################

    Dear Diary…

    05 Januari..

    Aku bahagia saat mami mengatakan bahwa papi akan menetap di sini bersama kami, Sekarang aku bisa membuktikan pada teman-temanku dan bu guru jika aku masih memiliki seorang papi....

Sabrina tersenyum. Lalu ia membaca untaian kata berikutnya. Memorinyapun ikut memutar ulang setiap peristiwa yang terjadi saat itu. Semakin lama ia membaca ia seakan merasakan sebuah keajaiban. Penggalan-penggalan waktu bertaut tanpa batasan sehingga kejadian yang tak tertulis sekalipun muncul di hadapannya bagai adegan slide. Ia bahkan seakan tak lagi sedang membaca sebuah kenangan namun merasakan ulang kejadian demi kejadian di situ.

#######################

Papiku adalah pria berkewarganegaraan Amerika. Ia bertemu dengan mami saat mami kuliah di sana. Mereka menikah beberapa tahun kemudian. Selama ini papi dan mami hidup selalu berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain dikarenakan pekerjaan papi sebagai tenaga konsultan asing. Aku lahir satu tahun kemudian di sebuah negara di Eropa. Ketika usiaku menginjak lima tahun, mami memutuskan untuk pulang ke tanah air dan tinggal menetap di kota Y. Setiap tiga bulan papi datang menjenguk kami berdua. Mami melakukan hal itu demi aku, putrinya semata wayang. Meski mami menikahi seorang pria bule namun ia ingin aku tumbuh besar di dalam  lingkungan budaya ketimuran. Ia juga selalu mengajarkan nilai-nilai moral sebagai seorang wanita kepadaku. Demi aku kedua orang tuaku harus menjalani hubungan keluarga jarak jauh. Semua itu berlangsung hingga aku berusia 14 tahun. Hingga pada suatu ketika papi menjadi tenaga asing yang di’hire’ oleh sebuah perusahaan local selama lima tahun.Dan itu membuat kami dapat berkumpul kembali sebagai keluarga yang utuh. Rencananya setelah kontrak papi dengan perusahaan lokal tersebut selesai kami baru akan tinggal menetap bersama di Amerika. Papi menganggap saat itu merupakan waktu yang tepat buat pindah secara permanen karena bersamaan dengan itu aku juga telah menamatkan SMU-ku di sini. Memasuki tahun terakhir. Kami kembali jarang berkumpul bersama di rumah. Pekerjaan papi semakin banyak di luar kota Y. Sedangkan mami sendiri juga memiliki pekerjaan yang mengharuskan ia selalu bolak balik pergi ke kota S. Tinggallah aku di kota Y di temani seorang pembantu bernama mbak Narti dan seorang sopir bernama Tugimin atau sering kupanggil mang Gimin. Mang Gimin adalah pamannya mbak Narti sendiri. Orangnya sudah lumayan tua berusia sekitar 60 tahun-an. Giginya sudah pada ompong sehingga buat mengunyah makanan dan menunjang penampilannya ia harus memakai gigi palsu. Kata mbak Narti sewaktu muda dulu mang Gimin doyan kawin dan istrinya sangat banyak. Konon kabarnya istrinya sampai belasan orang. Sedangkan mbak Narti sendiri adalah seorang wanita berparas ayu bertubuh sintal berusia sekitar 27 tahun memiliki budi bahasa yang halus namun herannya belum juga menikah.  Kejadian yang banyak mempengaruhi pada jalan hidupku dimulai pada suatu malam. Kedua orangtuaku tak ada di rumah seperti biasa. Mami di kota S sedangkan papi di kota G. Aku masih ingat malam itu aku baru selesai mengerjakan PR sekolah. Sudah lima menitan aku mengotak atik saluran televise namun tak kutemukan acara yang menarik buatku. Akhirnya kuputuskan buat mencari mbak Narti. Banyak cerita baru yang ingin kubagi kepadanya. Yang kusukai darinya adalah dia selalu menanggapi setiap curhat dan ceritaku.  Aku kira ia pasti masih menonton televisi di belakang. Yang kumaksud bagian belakang adalah wilayah yang terpisah dari bagian utama rumah. Di situ ada sebuah dapur, ruang laundry, sebuah ruang tempat mbak Narti makan sekaligus bersantai menonton televise, sebuah gudang termasuk kamarnya mbak Narti.

Udara dingin menyetuh kulitku saat aku berjalan melintasi halaman belakang. Bunyi kodok bersaut-sautan. Ternyata saat itu sedang hujan gerimis. Sesampaiku di ruang tempat ia biasa bersantai ternyata ia tak ada di situ. Tumben? Kemana dia? mungkin mbak Narti kecapean kerja sehingga sudah tidur jam segini,pikirku. Aku berniat mengajaknya pindah ke kamarku meski ia sudah tertidur sekalipun karena aku begitu butuh  ia temani malam ini.Lalu aku melangkahkan kakiku menuju kamarnya. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, akupun langsung menerobos masuk tanpa mengetuk lagi
“AWWwww!!!” akupun sontak terpekik tertahan karena kaget saat sadar apa yang tengah terjadi di dalam situ.
Saat itu kulihat mbak Narti duduk di bibir dipan. Sementara mang Gimin berbaring dengan kepala berada di pangkuan mbak Narti sambil…sambil....menetek! Penglihatanku tak mungkin salah saat itu. Bibir lelaki tua itu melekat ketat pada salah satu payudara mbak Narti. Aku bahkan sempat melihat  pipinya yang penuh keriput itu terkempot-kempot saat melakukan hisapan. Ia tak sedang memakai gigi palsunya saat melakukan itu. Karena benda itu kulihat tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. Sementara itu mbak Narti juga tak kalah kagetnya melihat kehadiranku di situ. Lalu dengan cepat mendorong wajah mang Gimin dari dadanya hingga bibir mang Gimin terlepas dari payudaranya. Plok! Suara itu menimbulkan sentilan aneh di dalam diriku. Gdbrakk!Mang Gimin jatuh terguling ke lantai akibat dorongan mbak Narti.
“N.nnon?” hanya itu yang bisa terucap dari mulut mbak Narti saat itu belingsatan sambil berusaha menutup dadanya yang terbuka.
Seketika itu aku baru sadar jika aku tak seharusnya berada di tempat itu. Akupun segera kabur dari situ. Aku kembali ke kamarku dengan perasaan campur aduk. Semua yang kusaksikan barusan terlalu luar biasa buat gadis remaja sepertiku. Bukankah seharusnya mang Gimin tidur di sebuah ruangan yang disediakan baginya di dekat garasi rumah. Aku hanya tak habis pikir bagaimana mungkin mbak Narti sampai melakukan hal itu dengan pamannya sendiri yang sudah tua itu.

Tok!..tok..tok
Tiba-tiba kudengar suara ketukan pada pintu kamarku
“Siapaa?”
“Saya non..mbak Narti”
“M masuk saja mbak. Pintunya tidak dikunci”
Mbak Narti masuk ke kamarku dengan wajah menunduk. Aku rasa selain merasa malu dan bersalah, ia juga pasti sangat ketakutan bila aku sampai mengadukan hal itu pada mami. Tapi kami sama-sama malu untuk memulai .membicarakan hal itu. Akhirnya dia berkata lebih dulu.
“Non, mbak ingin mengatakan sesuatu pada non...”
“I.iyaa mbak” ujarku tergagap. Terus terang saja aku juga masih syok oleh peristiwa tadi.
“Mbak ingin menjelaskan soal kejadian tadi. Sebenarnya….mang Gimin bukanlah paman mbak Narti. Dia itu...suaminya mbak..”jelasnya singkat dan mengejutkanku.
“Apaa?!Mang Gimin itu suaminya mbak Nartii?”
“ Iya Nonn”
“Ta..tapi ...mang Gimin kan sudahh...”ujarku nyaris tak percaya.
“Iya mang Gimin memang sudah tua, non namun seperti itulah kenyataannya. Dia itu adalah suami mbak”
Aku sih percaya mbak Narti tidak mengada-ada.Hanya saja aku heran bagaimana orang berperawakan seperti mang Gimin yang tua dan peot serta doyan kawin itu bisa di senangi oleh banyak perempuan. Sampai-sampai mbak Narti yang masih muda dan lumayan ayu itu juga mau dijadikan istrinya. Apakah sewaktu mudanya wajah mang Gimin tampan? Kurasa juga tidak. Kulitnya saja hitam pekat begitu. Tubuhnya cuma 152 senti ituterlihat begitu pendek ketika berdiri di dekatku yang 172 senti. Lantas jika bukanlah karena fisik dan hartanya. Lantas apa yang menjadi keistimewaannya? Tanyaku dalam hati tanpa berhasil mendapatkan jawabannya.
“Lantas kenapa sejak awal mbak tidak mengatakan hal itu terus terang pada mami?”
“Mbak hanya tak ingin maminya non beranggapan yang tidak-tidak kepada kami berdua. Soalnya usia mbak berselisih sangat jauh dengan mang Gimin”jelas mbak Narti.
Ada benarnya alasan yang diutarakan mbak Narti itu, pikirku saat itu. Mami pasti tak akan memperkerjakan mereka di rumah kami bila tahu pria setua mang Gimin masih juga doyan dengan perempuan muda.
“Ya sudahlah, mbak. Sabrina juga minta maaf tadi itu ngga segaja ngeganggu mbak sama mamang” kataku.

“Nonn..” kulihat mbak Narti masih berdiri di situ. ”Jangan dilaporin sama mami dan papinya non ya”pintanya dengan wajah memelas
“Iya. Mbak tidak usah kuatir. Sabrinangga bakalan bilang kesiapa-siapa soal itu, kok”jawabku. Tentu saja aku juga tak ingin mereka diberhentikan dari pekerjaan mereka. Aku sudah terlanjur merasa cocok dengan keberadaan mbak Narti dan mang Gimin di rumah ini. Sejak papi  dan mami selalu berpergian ke luar kota, otomatis hanya mbak Narti dan mang Gimin orang terdekatku. Mbak Narti selalu mau meladeni apa saja kemauanku. Dan ia penuh kelembutan terhadapku. Ia selalu memperlakukan aku seperti adiknya sendiri. Mungkin juga karena aku tak memiliki saudara kandung menyebabkan aku jadi sangat tergantung padanya. Dia juga adalah tempatku buat menumpahkan segala curhatku. Sedangkan mang Gimin juga demikian. Perjalananku baik ke sekolah maupun ke tempat lain selalu menjadi gembira meski dalam keadaan capek bete karena celotehan  lucunya. Lagian kalau dipikir-pikir apa yang mereka lakukan itu syah-syah saja sebab mereka adalah suami istri.
“Hi hi Terima kasihh non. Non Sabrina memang selalu baik sama mbak”katanya girang. Malam itu aku ditemaninya tidur.

#######################

Kejadian malam itu terulang lagi dua malam kemudian. Kali inipun aku dengan sengaja mendatangi kamar mbak Narti karena minta ditemani tidur dan lagi-lagi saat itu bukanlah saat yang tepat bagiku. Kali ini bahkan lebih parah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyaksikan hal yang selama ini hanya pernah kudengar dari orang atau dari buku. .....sebuah persetubuhan! Bedanya jika kemarin aku memergoki mereka karena aku menerobos masuk ke dalam kamar sedangkan kali ini aku belum sempat masuk.Namun aku bisa melihat dari luar kamar apa yang terjadi di dalam situ karena kebetulan pintu kamar mereka tak tertutup rapat. Entah mengapa aku tidak kabur seperti kemarin. Aku justru berdiri terpaku di situ. Seakan berharap bisa melihat lebih jauh apa yang bakal terjadi selanjutnya di dalam situ. Seketika itu tubuhku langsung merespon secara aneh. Jantungku berdetak keras. Sementara tubuhku menggigil bak kedinginan. Terus terang saja baru kali itu juga aku melihat penis seorang lelaki dewasa dan dalam keadaan ereksi lagi. Dari posisiku berdiri aku bisa menatap jelas saat  benda hitam yang licin dan basah pada selangkangan mang Gimin itu bergerak timbul dan tenggelam ke dalam vagina mbak Narti. Aku juga merasa agak ngeri saat tahu sebegitu jauhnya vagina seorang wanita bakal terentang saat di masuki alat kelamin  seorang pria.
“Heggg!! Ndukkk ...Eunakkk!!!”
Kudengar suara erangan mang Gimin dengan sedikit  menggeram. Detik itu juga tiba-tiba pinggulnya ia hentakkan dengan kuat kebawah.
JLEEPPPPP! AWww! Aku sampai mendesis. Untung saja kesepuluh jemariku cepat menutup bibirku. Jika tidak aku pasti bersuara seperti malam sebelumnya. Betapa kuat hujamannya itu!. Akupun seakan ikut-ikutan tersodok. Dan kurasakan ada sesuatu yang terpancar keluar dari kemaluanku.
JLEEPPP!
Argg! Dia menghujam lagi! Hujamannya kembali membuat cairanku terpancar.
“ARGhhhhhhhhh!! Kaaaaangg!!” kali ini kudengar mbak Narti memekik ...pilu.
Aku tak tahu apakah itu pekik kesakitan mbak Narti atau bukan? Bisa jadi mbak Narti menderita gara-gara mang Gimin menghujamkan alat vital secara kuat ke vaginanya? Mang Gimin terus menghujaman hingga beberapa kali sampai akhirnya ia benar-benar berhenti melakukannya dan menahan hujamannya di dalam agak lama. Bola testisnya terlihat menggembang dan mengempis kuat. Lalu kulihat cairan putih meluber dari sela-sela kemaluan mereka berdua. Aku tak mampu menonton adegan itu lebih lama lagi. Aksi lima belas menit mang Gimin dan mbak Narti itu  benar-benar menggoyahkan dengkulku sekaligus membuat celana dalamku menjadi sedemikian basahnya. Aku bergegas kembali ke kamarku sebelum mereka memeregokiku. Alhasil aku jadi sulit sekali tidur malam itu. Kejadian barusan selalu terbayang di pelupuk mataku. Uhh! malam masih begitu panjang sedangkan aku semakin gelisah. Tak ada jalan lain terpaksa gulingku kujepit dengan kedua pahaku dan kutekan kuat-kuat ke arah keselangkanganku. Hanya itu caraku melampiaskan rasa aneh yang bergejolak di dadaku.

#############################

Keesokan paginya mataku sayu karena kurang tidur semalam. Aku berangkat ke sekolah di antar oleh mang Gimin. Di tengah perjalanan aku kerap melirik ke arah celananya. Hatiku berdetak kencang ingat jika di dalam situ ada sebuah benda dasyat yang kulihat tadi malam yang membuat mbak Narti terpekik-pekik keenakan.

############################

Malam harinya setelah mengerjakan PR-ku aku ditemani mbak Narti menonton film di kamarku. Rasa gelisah kembali merasuk. Kegelisahan yang sama seperti yang kurasakan pada malam kemarin. Bayang-bayang keintiman antara mbak Narti dengan mang Gimin terus-terusan muncul mengganggu konsentrasiku pada film yang kutonton. Aku seakan masih mendengarrintihan dan erangan dari mbak Narti. Aku masih bisa membayangkan pantat hitam nan keriput mang Gimin bergerak naik turun.Dan yang paling menggelisahkan adalah ingatan akan batang penis mang Gimin  yang hitam besar dan melengkung itu menghujami vagina mbak Nartiyang kecil mungil.
“Si non kok melamun?” tanya mbak Narti di tengah-tengah pertunjukan.
“Hi hi iya mbak. Eh Kok mbak bisa tahu?”
“La iya tahu. soalnya non diem ndak ketawa-ketawa sejak tadi padahal filem-nya lucu banget.Pasti lagi mikirin ‘itu’ ya?”
“I.ituu? Itu apaa sih mbak?”
“Itu tuu yang non intip semalem” ujarnya mengagetkanku.
“N.ngintip apaan?”tanyaku pura-pura bego.
“Kemaren malem si non ngintip mbak sama mang Gimin lagi gituan, kan?”tembaknya langsung.
“Idihhh mbak. Jangan nuduh sembarangannn” sangkalku. Wajahku jadi panas memungkinan mbak Narti bisa melihatnya merona saat itu.
“Sudah ngaku saja!.Soalnya mbak bisa ngelihat bayangan si non di dekat pintu!”
Duh! Malunya.Aku-pun jadi tersipu. Tak kusangka ia bisa tahu. Dasar aku-nya yang bego dan kurang hati-hati.
“Hi hi Iya deh mbak, Sabrina ngaku.. tapi beneran itu bukannya Sabrina sengaja mau ngintip. Mbak juga sih yang ga ngunci pintunya!”kilahku
“Dasar! Ntar matanya bintitan, lho non!”godanya. Lalu kami melanjutkan tontonan kami hingga selesai.
“Eng.. mbak”
“Iya non?”
“Sakit ngga sih, Mbak?”tanyaku ragu-ragu
“Apanya yang sakit, non?”
“ituu..di ‘gitu’in sama mang Gimin?”tanyaku lebih jelas.
“Hi hi hi mbak pikir apa ternyata itu toh? Yaa ndak lah, non. Justru rasanya enak bangeeet!”jawab mbak Narti sambil tertawa geli mendengar pertanyaan luguku.
“Masa sih,mbak? Kok mbak teriak-teriak? ”tanyaku kurang yakin sebab masih terbayang olehku betapa lebar vaginanya terentang oleh alat vital mang Gimin.

“Hi hi hi hi Non…non..mbak teriak yaa karena keenakan!”
“Oooo..begitu..”ujarku termagu-magu.
“Lagian mana mungkin perempuan doyan begituan kalau rasanya tidak enak.Eh?..kenapa si non tanya? Si non belum pernah ngerasain, ya?”tanya
Aku mengeleng. Tentu saja aku belum pernah melakukan itu. Pacaran pun aku dilarang sama mami meski begitu banyak cowok yang tergila-gila oleh tampang buleku.
“si Non kepengen, Ya?”tanyanya mengagetkanku.
“Idihhh mbak!. Sabrina kan cuma nanya doang!”elakku. Tapi mbak Narti seakan tahu hasratku. Kulitku yang putih tak mampu menyamarkan pipiku yang bersemu dadu.
“Sudahh ndak usah bohong lagi. Ngaku saja. Mbak tahu cirinya kalau perempuan sedang kepingin. Mbak juga begitu waktu seumur non. Kepingin ndak nyobain?”
“Iya sih mbak tapi Sabrina-kan belum punya pacar”ujarku lesu.
“O gitu toh. Eng...Bagaimana kalau sama...mang Gimin aja. Mau ndak?”
“A..paaa?! Samaa mamang,mbakk?!”Jantungku berdetak keras mendengar tawaran tak terduga-duga darinya  itu.
“Iya...”
“Nggaaa mauuu ahh, mbak! Masak sama mamang!”
“Lho kenapa? Biar sudah tua tapi penisnya enak banget lho. Non juga ndak usah malu. Mbak ndak keberatan non di gituin sama suamiku. Mang Gimin juga pasti seneng banget!”
“Sabrina ngga mau, Mbak!”
“Katanya tadi kepingin. Ayolah!...Mumpung maminya non sedang ndak ada”.bujuk mbak Narti.
“B.bbukannya begitu, mbak. Mami pernah bilang Sabrina harus menjaga keperawanan Sabrina sampai menikah kelak”
“Oalah! Cuma karena masalah itu, toh?”
“Maksud Mbak?”
“Ntar kita bilangin sama mamang supaya di celup aja”
“Diceluuup, mbak?”
“Iya dicelup!”
“E emangnya ngga bakal pecah, mbak?”tanyaku lagi.
“Ya ndak lah. Yang masuk kan cuma kepala penis saja. Ayolah, tunggu apa lagi?”goda mbak Narti terus berusaha menggoyahkan keimananku.
“Tapii mbakk…Argggg” aku masih tetap ragu.
“Sudahhhh ikuttt!!” ujar mbak Narti menarik tanganku.

###############################


Aku dimintanya menunggu di depan pintu kamar sementara ia masuk dan berbicara dengan suaminya. Tak lama kemudian ia muncul lagi dan langsung menarik tanganku masuk ke dalam kamar sempit itu.Di dalam situ mang Gimin berdiri menyambutku. Ternyata ia sedang dalam keadaan telanjang bulat. Sehingga mau tak mau penisnya yang tak disunat di antara gerombolan bulu kemaluannya yang kusut dan beruban itu terlihat olehku.
“Aaaa!!…Mbakkk takutt!!..”jeritku sambil berlari dan bersembunyi di belakang mbak Narti.
“Masa sih non takut sama ini-nya mamang?” Tanya mang Gimin sambil mendekat ke arahku.Aku semakin merapatkan tubuhku ke mbak Narti. Tapi mataku tetap menatap lekat benda di selangkangannya itu. Benda itu berdiri kukuh seakan tengah menunjuk ke arah aku dan mbak Narti. Bentuknya melengkung laksana sebuah pisang ambon besar dengan balutan kulit keriput berwarna hitam pekat.
“Aaakhhh!” desahku kaget. Tiba-tiba saja benda tersebut melenting ke arah atas secara cepat hingga menampar perut pemiliknya secara keras.
Cletap! ...Cletap!..Cletap! Benda itu terus terhempas-hempas. Aku tak tahu mengapa benda itu bisa bergerak seperti itu seolah-olah ada yang memegang dan mengayunkannya.
“He ..hee.hee” mang Gimin terkekeh sambil berkacak pinggang. Ia sungguh tak punya malu memamerkan bagian tersebut kepadaku.
“Ndak apa-apa non. Bentuknya memang jelek tapi yang penting kan rasanya” kata mbak Narti.
“Gimana jadi ndak, he eh-nya?”tanyanya.
“Tapii…Ntar kalau hamil gimana?”bisikku pada mbak Narti. Mbak Narti tertawa geli mendengar kekuatiranku itu.
“Apa toh nduk?” Tanya mang Gimin pada istrinya.
“Ini kang..Si non takut kalau sampai bunting.”
Mendengar itu mang Gimin jadi ikut terkekeh-kekeh sambil memperlihatkan deretan gusi tanpa gigi palsunya.

“Gini Non. Si non ndak bakalan hamil kalau air pejuh mang Gimin tidak ditumpahin di dalem punyanya non.”
“P.ejuhh?” tanyaku bingung.
“Iya ituu.....air enaknya lelaki. Pasti non juga sudah belajar di sekolah kan?”mbak Narti balik bertanya kepadaku. Aku merenung sejenak. Mungkin yang dimaksud mbak Narti adalah Sperma. Ya pastinya memang itu yang bisa membuahi sel telur perempuan, pikirku.
“Iya sih mbak. Sabrina tahu itu.  Tapi Sabrina masih ga yakin dan kuatir”
“Baiklah, mbak coba jelasin biar si non yakin dan ndak ragu lagi”
Lalu ia menambahkan beberapa hal lain yang perlu aku ketahui seputar persetubuhan dan kehamilan pada seorang wanita.Sepertinya apa yang dikatakan mbak Narti barusan memang cocok dan sama dengan apa yang ada di pelajaran biologi.  Beberapa istilah asing memang baru kudengar pada saat itu. Tapi aku paham apa yang dimaksudkannya itu ketika kucocok-cocokan dengan bahasa ilmiah yang sering dipakai pada pelajaran sekolah. Seperti ‘pipis enak’ kuduga itu artinya ejakulasi. Lalu ‘kacang’ pastilah itu klitoris dan beberapa istilah lainnya berkaitan dengan hal itu. Begitulah dengan sabar Ia memberikan jawaban atas setiap pertanyaanku sehingga bisa meyakinkanku sekaligus membuat satu persatu kekuatiranku lenyap.
“Gimana? Sudah pahamkan?”tanyanya setelah penjelasan tadi.
Aku mengangguk kecil.
“Berarti ndak kuatir lagi digituin sama mang Gimin kan?”susulnya lagi.
Aku ragu. Antara mau dan takut. Tapi sepertinya mbak Narti mengerti akan kegamangan hatiku.
“Ya udah, kalau masih belum berani juga, tak cobain yang lain aja dulu. Gimana? Mau?”
“Y.ang lain? Apaa mbak?”tanyaku
“Alaaa cobain ajah dulu. Pokoknya asyik deh, mbak yakin non pasti suka”
Aku melirik ke arah mang Gimin. Kulihat si tua itu tersenyum lebar. Sepertinya dia juga berharap sekali hal itu terlaksana. Pandanganku kembali ke mbak Narti. Dan akhirnya dengan malu-malu aku anggukan kepalaku. Bersamaan dengan itu kudengar suara terkekeh mang Gimin.
“Tapi mbak-nya jangan kemana-mana!”pintaku.
“Iya mbak tetep di sini nemenin si non. Nah sekarang mbak bantuin ngebuka bajunya ya non?” ujar mbak Narti meminta izinku.
“Mbak ajah duluan” pintaku. Mbak Narti menuruti. Setelah ia selesai dengan dirinya. Lalu ia membukakan pakaianku.
“Arggg!! Mamang jangan lihat kemari!”protesku karena malu.
“Nantikan juga mamang ngeliat semuanya, non”jawab mang Gimin.
“Kalau gitu ngga jadi ajah!. Sabrina ngga mau!” rajukku
“Kangg!!”hardik mbak Narti ke Mang Gimin meminta suaminya itu agar bersikap kooperatif.
“Iya iya” jawab mang Gimin lalu memutar tubuhnya membelakangi kami.

Satu persatu pakaianku terlepas hingga akhirnya aku benar-benar telanjang.
“Duduk di sini non” kata mbak Narti membimbingku duduk di pinggir dipan.
Ia sendiri duduk di sebelahku.Setelah itu di atas pangkuanku ia letakan sebuah bantal. Hatiku langsungkebat-kebit. Aku tahu apa yang bakal ia lakukan! Ini-kan posisi duduknya mbak Narti seperti yang kulihat beberapa malam yang lalu di saat mang Gimin menetek padanya! Argggg!..Jangan-jangan dia juga akan melakukan hal yang sama padaku.
“Kang. Ayo rebahan.” Ujar mbak Narti kepada suaminya.
Mang Gimin melakukan apa yang mbak Narti barusan katakan padanya. Senyum mesumnya mengembang menghiasi pipinya yang peot. Duhh! Betapa malunya aku sehingga kupejamkan mataku. Bayangkan ini pertama kalinya dalam hidupku aku berbugil dihadapan seorang lelaki.
“Wuiihh! putihh tenann. Beda banget sama kamu, Nar” ujar mang Gimin mengomentari keindahan yang tersaji di hadapannya itu..
“Hi hi hi Ini kan barang indooo, kang” timpal mbak Narti.
Ia biarkan suaminya memandang puas-puas seluruh aset pribadiku yang memang  lebih banyakan bulenya ketimbang melayunya itu. Jelas sekali gen papiku begitu kuatnya sehingga kemungkinan hanya sepuluh persen saja gen mami yang ada pada diriku. Detik demi detik berlalu. Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Tubuhku terasa panas dingin seolah aliran daraku beredar tak normal. Mataku masih terpejam rapat. Menanti sesuatu yang akan terjadi pada diriku dengan perasaan tak menentu. Jemari tangan kananku menggenggam erat jemari mbak Narti. Sementara tangan yang satunya mencengram kain seprey. Tak lama kemudian aku merasakan sebuah tekanan pada bantal di atas pangkuanku menandakan mang Gimin sudah menaruh kepalanya di situ. Lalu....kurasakan sesuatu yang basah menyentuh cepat puting payudara kiriku.
AWWWW!!  Aku terpekik dan terlonjak kaget! Mataku spontan membeliak. Dan berusaha melihat apa yang terjadi.
Ternyata yang mencoel putik susuku adalah ujung lidahnya mang Gimin. meski cuma menyapu selintas tapi efek yang ditimbulkannya sungguh dasyat bagiku! Gelii itu...! Sampai sekarangpun masih meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku. Tentu saja itu merupakan sentuhan secara seksual pertama yang kudapat dari seorang lelaki. Namun belum lagi sempat aku bernapas lega ia sudah melakukannya lagi. Kali ini lidahnya menyapu lebih perlahan. Tapi ia menekan lebih kuat. Ampunnnn geliiinyaa!...Napasku sampai tersengal-sengal. Kulihat mang Gimin menatapku sambil nyengir memperlihatkan deret gusi tanpa giginya. Tiba-tiba tanpa peringatan ia memagut puting susuku bagai seekor ular. Dan hanya dalam hitungan sepersekian detik ia telah menyedotnya kuat-kuat.
“AWWWWWW..Maangggg! heggggggg!”aku terpekik tertahan.
Seketika itu jiwakupun seakan ikut tersedot melalui putingku itu. Ternyata benar dugaanku tadi. Mang Gimin menetek padaku! Rasanya...tak dapat kucapkan dengan kata-kata! Punggungku melengkung karena aku tak kuat melawan sengatan  rasa geli yang bercampur dengan kenikmatan itu. Sementara aku harus menggigit bibirku sendiri.

Secara naluriah tangan kiriku meraih kepala mang Gimin dan menekannya ke arah dadaku lebih erat lagi. Kejadian itu baru berlangsung kira-kira satu menitan ketika...Plok! Tiba-tiba hisapan mang Gimin terlepas sekaligus memutus kenikmatan yang sedang kurasakan. Ternyata mbak Narti-lah yang memisahkan putingku dari bibir mang Gimin. Ada apa gerangan?
“Gimana rasanya?” tanya mbak Narti sambil tersenyum.
“G..geli banget mbak” bisikku malu.
“Tapi enak juga kan?”
“He eh....”
Jelas! Gerutuku dalam hati. Mana mungkin aku menyangkal kenikmatan yang terjadi pada ‘first contact’ tadi. Lihat saja putingku sampai berdiri sepejal karet.
“Mau di terusin lagi ndak?” Tanya mbak Narti tersenyum geli.Entah ia bermaksud menggodaku atau karena ia benar-benar ingin tahu pendapatku. Padahal jelas ia pasti tahu jawabanku. Akupun mengangguk.
“Kalau begitu non rebahan aja di kasur. Biar lebih nyaman” Ujar Mbak Narti membimbingku naik ke tengah dipan.
Kali ini aku dimintanya terlentang. Mang Gimin juga ikut merayap naik. Akhirnya payudaraku yang satunya lagi ia’perawani’ juga. Aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang tabu. Melanggar apa yang telah selama ini mami pesankan kepadaku. Aku telah membiarkan seorang lelaki yang bukan suamiku menyentuh diriku secara seksual. Tetapi aku sungguh tak mampu mencegah hasratku. Dorongan buat merasakan itu begitu kuatnya. Dan lelaki yang beruntung itu kebetulan adalah mang Gimin, yang berstatus hanya sebagai sopir keluargaku, suaminya mbak Narti.Seorang pria tua, berkulit hitam legam, bertubuh pendek dan kerempeng. Sungguh tak ada sedikitpun dari dirinya yang sepadan dengan seluruh kebaikan yang dianugrahkan pada diriku. Aku hanya bisa melingkarkan kedua tanganku ke belakang kepalanya secara erat sambil merintih-rintih. Apa dayaku dibawah kendali seorang pria yang pernah belasan kali menikah dan begitu berpengalaman dalam hal ini. Ia pasti tahu sekali bagaimana menaklukan gadis bau kencur seperti aku melalui putting susuku. Pertama-tama ia akan melakukan hisapan kuat dan bergelombang. Lalu lidahnya berputar di dalam ke-vakuman rongga mulutnya, berotasi menyapu setiap titik-titik sensitif yang ada di seputar putingku.
“Argghhhhh..mamangggg”. aku terpekik lirih setiap kali sirkulasi kemesraan itu ia akhiri dengan sebuah gigitan dari gusinya yang tak bergigi itu. Mulutnya yang tak begigi itu ternyata membuat daya hisapnya menjadi semakin luar biasa.
Mbak Narti tak lagi ikut campur tangan. Kami dibiarkannya berpuas-puas menikmati sesi menyusu kali ini.Mang Gimin terus melakoninya semua itu selama lima belas menit ke depan.

Plok! Akhirnya hisapan mang Gimin terlepas dengan meninggalkan ketegangan dan bias-bias merah disekitar putingku. Tapi wajahnya tak menjauh dari tubuhku. Bibir keriput itu mencecarkan kecupan-kecupan di seputar dadaku. Bibirnya bergerak bagai seekor siput yang sedang merayap itu perlahan turun menuju ke perutku, lalu ke bagian pinggulku dan semakin turun dan  semakin ke bawah hingga ke bagian yang paling intim milikku..
“Buka pahanya, non…”bisik mbak Narti padaku..
“Mamang mau ngapainn sichh., mbakkk?”tanyaku malu. Mengetahui wajah mang Gimin sudah berada tepat di depan selangkanganku.
“Sttt…non merem ajaa…nanti pasti enakk” bisiknya lagi.
Lalu akupun kembali memejamkan mataku. Beberapa detik kemudian aku tersentak kaget ketika kurasakan sentuhan sebuah benda basah menyapu secara vertical selangkanganku dari bagian bawah ke bagian atas.
“Oughhhhh!” rintihku mengelinjang oleh rasa geli bercampur dengan nikmat yang langsung menyengat selangkanganku saat itu.
Kepalaku terangkat dan mataku yang tadinya terpejam membuka lebar lalu berotasi memandang ke arah sumber nikmat tersebut.
“Maangggg itu kannn bekas Sabrinaa pipisss!” pekikku dalam nikmat bercampur malu setelah tahu apa yang tengah ia lakukan di bawah situ.
Tetapi mang Gimin tetap asyik melumati vaginaku tanpa rasa jijik. Tangannya menahan kedua pahaku agar tetap terpentang lebar. Aku hanya sempat menyaksikan hal itu beberapa saat sebelum akhirnya kepalaku kembali terhempas ke kasur dengan mata terpejam.
“M..bakkkk…Ouhhhhh!” kali ini rintihanku kutujukan pada mbak Narti.
“Hi hi hi apa tadi mbak bilang…Enak banget kan, noon?… ”terdengar suara dan tawa khas mbak Narti menari-nari di telingaku.
Aku yakin ia tak butuh jawaban dariku. Ia tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.Sesudahnya aku hanya bisa merintih dan menikmati ulah lidahmang Gimin yang tengah menari-nari dengan lincah di bagian kewanitaanku. Nyaris sepuluh menit ia melakukannya sampai akhirnya aku kembali terpekik dibuatnya.
“AAARRRGGHHHHH!!!” rasa itu.... bukan kepalang nikmatnya! Sungguh tak terlukiskan. Seakan ada sesuatu yang meletus dari dalam selangkanganku. Pinggulku sampai terangkat saat itu terjadi. Tanpa sadar aku menjepit kepala mang Gimin dengan kedua pahaku. Sementara  kesepuluh jemariku mencengram erat kain seprey. Itu adalah orgasme yang pertama kali terjadi dalam hidupku.

Kenikmatan itu mungkin hanya berlangsung kurang dari satu menit namun bagaikan berabad-abad lamanya.Pinggulku akhirnya jatuh kembali ke kasur. Perlahan rasa enak itu pergi berganti dengan kenyamanan. Rasa nikmat yang tadi itu.... sungguh tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Begitu mempersona! Aku yakin itulah yang dinamakan dengan orgasme itu dan tentu saja aku ingin mengalaminya lagi! Tetapi sepertinya harapanku barusan tak bakal terjadi karena mang Gimin telah mengangkat kepalanya keluar dari wilayah selangkanganku.
“He he udah basah nih, nduk.” ujarnya pada mbak Narti sambil terkekeh-kekeh.
“Sebentar, kang. Tak tanya si non dulu mau diterusin apa ndak” ujar mbak Narti.
Hatiku kembali berdebar mendengar ucapannya. Mang Gimin sudah netek, juga sudah menjilati ‘anu’ku. Berarti ini sudah waktunya buat yang satu ‘itu’.
“Gimana non? Mau ya dicelupin sekarang? Baru pake lidah ajah udah sebegitu enaknya apalagi kalau pake penis”  Tanya mbak Narti padaku. Benar saja dugaanku tadi.Mbak Narti menanti kepastian dariku sebelum melangkah lebih jauh.
“Tapii..beneran ga sampe pecah kan, mbak?” tanyaku masih ragu sambil mempertanyakan kembali jaminan darinya.
“Mbak jamin, Non. Cuma dicelupin ajah, kok! Mau yaa?”
Akhirnya aku-pun mengangguk lemah karena tujuanku kemari toh memang buat mencoba itu. Sejenak kudengar mbak Narti dan mang Gimin berdialog serius dalam bahasa daerah asal mereka. Tentu saja aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya terjadi perdebatan kecil di situ. Entah ada apa. Kemungkinan ada sesuatu yang mang Gimin inginkan namun mbak Narti keberatan.
“Kalau kakang ndak mau nurut yah udah! Lebih baik batal saja!” terdengar suara mbak Narti meninggi.
“Iya..iyaa! tadi itu aku kan cuma usul, nduk. Kalau tidak setuju ya ndak apa-apa”timpal mang Gimin.Sepertinya dia yang harus mengalah.
“Ada apa sih, mbak?” tanyaku heran.
“Ndak apa-apa non. Ayo! Si  non rebahnya nyamping biar mang Gimin di belakang non”
Aku mengikuti petunjuk mbak Narti meski hatiku masih bertanya-tanya apa yang mereka ributkan barusan. Lalu setelah itu mang Gimin-pun rebah menyamping di belakangku. Tangan kanannya mengangkat paha kananku dan menopangnya agar tak jatuh.
“Gini toh, nduk?” tanya mang Gimin pada istrinya.
“Ya gitu..Pinggul kakang turunin sedikit” ujar mbak Narti. Lalu mang Gimin menggeser sedikit posisi tubuhnya lebih rendah dari pinggulku.
“Ya segitu, kang.  Nah..si Non lemesin aja badannya.Ndak usah tegang, ya” ujar mbak Narti kali ini kepadaku.

Jantungku berdetak cepat. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya.Perasaanku bercampur aduk menanti saat-saat mendebarkan itu. Sebentar lagi aku akan merasakan alat kelaminnya lelaki masuk ke dalam kemaluanku.
“Uhhh!” desahku lirih tatkala sesuatu yang hangat melintasi kedua pahaku hingga menyentuh bibir vaginaku. Aku tahu itu adalah penisnya mang Gimin.
Lep! dengan satu hentakan benda itu berusaha menerobos masuk...
“Oughhh” aku merintih. Ternyata cucukan pertamanya meleset dan hanya menyerempet klitorisku. Kegagalan pertama semakin membuat  mang Gimin bernapsu. Ia kembali mengambil ancang-ancang. Mencoba melakukan tusukan ke dua yang lebih akurat.  Lep! kali inipun dia melesat. Penisnya malah nyelonong ke arah belakang dan menghantam pantatku!.
“Uuuuu...Perett baget sih!”gerutu mang Gimin karena sodokannya selalu meleset.
Ternyata meskipun vaginaku sudah basah total namun ia masih saja kesulitan buat mempenetrasiku. Mungkin juga karena aku masih perawan sehingga vaginaku masih sangat rapat. Melihat situasi  itu mbak Narti segera bertindak.
“Sabaran sedikit toh kang. Ndak bakalan bisa masuk kalau kakang grasak-grusuk begitu!. Sini biar kubantu!” katanya gemas.
Dengan jemarinya ia rentangkan bibir vaginaku. Sementara tangannya yang lain meraih batang penis mang Gimin dan mengarahkannya ke posisi yang tepat.
“Coba tekann sedikitt….Kangg ….” ujarnya pada mang Gimin. Mang Gimin mencoba kembali menyentak kan pinggulnya. Dan……
“AWWWWW..mmaaaanggg.!.” aku merintih ketika sesuatu yang asing....begitu besar dan bertektur membuat bibir vaginaku merentang lebar.Dan..
CLEPP! Ujung penis mang Gimin yang bulat besar seperti jamur itu sepertinya berhasil masuk! Aku seakan tak percaya apa yang telah kulakukan ini. Aku telah membiarkan kemaluan seorang lelaki memasuki alat vitalku! Tapi ia belum berhenti. Dapat kurasakan secara perlahan sekali ia terus memasukiku mili demi mili. Merentangkanku... Menyentuhku..menyelusup ke tempat yang belum seorangpun termasuk aku menjamahnya.
“Uhhhhhhgg!” Aku meringis. Sementara alisku yang mengerenyit.
“Sakit..?” tanya mbak Narti kepadaku. Tentu saja ia bisa mengetahuinya dari ekspresi wajahku.
“Iya mbak... tapi cuma sedikit!”
“Ndak pa pa itu biasa. Sebentar lagi juga enak”

Benar kata mbak Narti. Tak perlu menunggu lama. Rasa ngilu yang sempat kurasakan tadi berangsur-angsur pudar. Seiring waktu rasa geli bercampur nikmat mulai muncul. Bahkan semakin lama terasa semakin menyengat sekaligus mengubur habis rasa ngilu tadi. Aku sendiri tak menduga jika rasa nikmat yang ditimbulkannya ternyata begitu dasyat. Bahkan jauh lebih dasyat dari jilatan yang mang Gimin lakukan tadi. Tektur daging penisnya begitu kentara terasa menyentuh seluruh dinding pangkal vaginaku yang dipenuhi oleh jutaan picu bom kenikmatan.
“Wuiiihh.. ternyata masih bisa masuuuuk” kudengar mang Gimin menggumam, rupanya ia masih terus mencoba melesakkan penisnya jauh lebih dalam.
Srtttttt!
“Aduuuuhh… duhh!!” Kali ini akumengaduh kesakitandi tengah-tengah kenikmatan itu.
“Kang! Kang! Cukupp segitu aja!. Ntar perawannya si non robek. Itu juga sudah sepertiganya punya kakang yang masuk!” ujar mbak Narti memperingatkan mang Gimin agar tak terlalu memaksakan dirinya. Sepertinya ujung penis mang Gimin memang sudah menyentuh dan menekan selaput daraku.
“Sebaiknya non rapetin pahanya biar bisa ngejepit sisa penis mang Gimin” mbak Narti terus memberikan instruksi kepada kami berdua.
Kedua kaki mang Gimin yang kurus dan berbulu itu diapitkan ke pinggulku. Aku baru mengerti mengapa ia harus berada di posisi belakang bukannya di depan seperti saat ia bersetubuh dengan mbak Narti. Dalam posisi itu penis mang Gimin akan selalu berada di jalur yang tepat sehingga tak bakal mudah terlepas sekaligus mencegah penetrasinya terlalu jauh ke dalam karena tubuhnya akan terganjal oleh pantatku.
“Nah, kang. Kocokin...tapi pelan-pelan dulu...”
Mang Gimin mulai menggerakan pinggulnya mundur maju. Kecepatannya sungguh lambat namun ia lakukan dengan kedalaman terukur secara konstan. Sesekali penisnya terlepas. Tapi mbak Narti dengan sigap menuntunnya balik masuk ke dalam vaginaku. Kedua tangan Mang Gimin juga tidak tinggal diam. Yang satu tetap memegang pinggulku sementara yang satunya lagi memainkan clitorisku.
“AAARRRGHHHHHHH!” aku mengerang.
“Enak non?” tanya mang Gimin.
“I.yyaa Maang enakk..bangett!!”rintihku tanpa malu mengakuinya.
Rasa ingin tahuku sungguh setimpal dengan resiko yang kuambil. Tak kusangka baru dicocol sedikit tapi nikmatnya sudah seperti ini apalagi jika di masukan semua pikirku saat itu. Sempat aku hampir dikuasai secara penuh oleh gairahku. Untungnya ditengah badai kenikmatan itu  akal sehatku ternyata masih mampu diandalkan dan mencegahku agar tak kebablasan. Ya! Aku tak boleh melampaui batas. Jika aku masih ingin tetap PERAWAN! Apa yang telah kulakukan ini sudah maksimal. Demikian ketetapan dan batasan yang kutanamkan dalam hatiku.
“Heegg..peretttnyaa!...” kembali kudengar keluhan mang Gimin. Kutahu ia juga pasti sedang keenakan sebagaimana halnya diriku.
“Ti..ngecrot di dalemm apa di luar, nihh? Kakang sudah ndak kuat lagi!.”Tanya mang Gimin buru-buru sambil menoleh pada istrinya.
“Lho bagaimana kakang ini?! Baru juga dimasukin sudah mau muntah!”gerutu mbak Narti.

“Eng anu. Soalnya tempik si non kuat banget ngemutnya...” ujar mang Gimin berkilah.
“Ntar! Di tahan dulu!” cegah mbak Narti lalu ia beralih kepadaku.
“si Non kapan dapet mens-nya?”
“Sepuluh hari lagiii mbakk…” jawabku heran di sela-sela deraan nikmat yang menyengat itu.
“Kecrotin  aja di dalem kang. Masih aman kok.” ujar mbak Narti pada mang Gimin. Aku jadi terkejut mendengar omongan mereka.
“Mbaaakk..?”rintihku lirih.
“Ndak apa-apa non. Mbak jamin ndak bakalan hamil kok” ujar mbak Narti kembali menenangkanku. Sepertinya ia memang selalu mengerti akan kekuatiranku sekaligus mampu membuat hatiku tenang.
“Kang! Kalau bisa sih bikin non Sabrina ngecrot barengbiar bukan cuma kakang yang dapet enaknya” oceh mbak Narti pada mang Gimin.
“Iyaa…inii juga sedangg di usahainnn…”jawab mang Gimin terbata-bata. Tiba-tiba gerakan pinggulnya yang tadinya lambat mendadak semakin cepat. Ulahnya itu semakin membuat rasa geli nikmat pada mulut kemaluanku semakin tak tertahankan olehku.Dalam waktu singkat aku kembali terpekik.
“AAAAWWWWWWWW….MAMAAAAANGGG!!”
Mang Gimin berhasil membuatku kembali orgasme! Letupan kali ini sungguh tak terkira nikmatnya. Bahkan jauh lebih nikmat ketimbang dari orgasme yang dihasilkan oleh jilatan mang Gimin. Tubuhku mengejang disertai hilangnya kesadaranku saat hal itu terjadi. Kesepuluh jemariku secara spontan mencengram paha mang Gimin yang keriput dengan kuat. Sementara itu mang Gimin sendiri menggeram hebat.
“GRRRHHHAA!! Oeenakk tenaaann!!!”
Seper sekian detik kemudian kurasakan sesuatu memancar kuat dari ujung penisnya.
CROOOOTTTTT!!! Itu pasti ‘pipis enak’nya mang Gimin seperti yang di maksudkan oleh mbak Narti. CROOTTT!!!....CROOOTTTTTTT!! Dia terus saja menembakan pipisnya ke dalam punyaku. Rasanya hangat. Penis mang Gimin berdenyut-denyut dengan kuat....mengempis.. mengembang seakan hendak meletus di setiap pancaran yang terjadi. Setelah lebih satu menit berlalu barulah semua proses orgasmeku  berakhir. Aku masih memejamkan mataku mencoba menstabilkan nafasku sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan hebat itu.
“Gimana, enak kaaan?” tanya mbak Narti. Kudengar juga suara tawa mang Gimin terkekeh-kekeh.  Sepertinya dia bangga sekali berhasil membuatku mencapai kepuasan tertinggi secara bersamaan barusan.
“Iyahh mbakk..enak sekaliii” jawabku masih tersengal-sengal. Ini adalah seks pertamaku. Dan aku merasa beruntung dapat merasakan penis lelaki tanpa harus kehilangan keperawananku.
“Eh, Kang cabut dulu!”ujar mbak Narti tiba-tiba sambil mendorong perut suaminya menjauh sehingga penis mang Gimin tercabut lepas dari vaginaku.

Aku heran ketika Mbak Narti menahan kangkanganku. Ia mendekatkan wajahnya ke situ.dibukanya bibir vaginaku yang masih setengah menganga karena baru saja dimasuki alat vital suaminya. Dengan telaten di singkirkan-nya lelehan sperma mang Gimin yang menutupi mulut vaginaku.
“Ada apa sih mbak?’
“Hmm… amannn!”katanya lega. Setelahnya aku baru mengerti ternyata ia tengah memeriksa selaput daraku dan memastikannya masih utuh.
“Lagi ahh!” ujar mang Gimin langsung menjejalkan penisnya kembali.
“Awwwww mamaangggg” akupun terpekik lirih saat menerima hujamannya. Vaginaku menjadi sangat sensitive setelah orgasme tadi sehingga rasa gatal dan geli begitu menjadi-jadi. Kamipun mengulangi apa yang sudah kami lakukan tadi. Mang Gimin banyak melakukan hal-hal baru kali ini. Ia mengecupi seputar leherku. Tak hanya itu aku terpaksa menerima ciumannya pada bibirku untuk yang pertama kali. Kurang dari satu jam seluruh tubuhku sudah ia jamahi...ia nodai kecuali satu tempat yaitu liang senggamaku mulai dari bagian selaput dara hingga ke arah rahimku.  Di sesi yang terakhir keintiman kami berlangsung dalam waktu yang sangat lama namun begitu aku belum juga mendapatkan orgasmeku. Pasalnya mang Gimin menjahiliku. Ia kerap menunda-nunda setiap kali aku akan sampai pada orgasmeku dengan berulang kali mencabut lepas penisnya. Tentu saja ulahnya itu sungguh membuatku menderita.
“Mamangggg…..tusukinnn!” rengekku tak tahan lagi karena ingin ia segera menuntaskannya..
“Udahh kang! Jangan di godain terus. Kasihan non Sabrina”Kata mbak Narti agak kesal dan bosan karena harus terus-terusan mengembalikan penis mang Gimin ke posisi yang benar.
“Iyaahhh.. ini kakang juga sudah mau muncrattt!”jawab mang Gimin terbata-bata. Lalu ia tusukan penisnya.
“UGHHHHHHH!!!!!”
Akhirnya aku mendapatkan apa yang kumau. Mang Gimin tak lagi melepas-lepas kepala penisnya. Benda itu terus di biarkan menancap ketat pada bagian pangkal vaginaku..mengkedut-kedutkannya kuat-kuat...hingga aku mencapai orgasmeku.
“AARRRRGHHHH MAAANGGG!!!!!”pekikku kali membahana memenuhi kamar sempit itu. Aku merasakan akibat kejahilan yang dilakukannya kepadaku tadi. Aku justru mendapatkan orgasme paling enak ketimbang dua sesi sebelumnya.  Jemariku mencengkram pahanya kuat-kuat ketika hal itu terjadi.
“GRAAAAAHEEGGGG!!!” Mang Gimin menggeram jantan. Ia kembali melepas ‘pipis enaknya’ bersamaan dengan kenikmatanku.
CROOOOTTT!!!..... CRRROOOOOTTTTT!!......CRRROOOTTTTT!!
Uuugghh! Nikmatnya. Setiap hentakan benih mang Gimin terespon cepat oleh syaraf-syaraf kewanitaanku. Membuat diriku hilang kesadaran.. Tubuhku seakan melambung ke atas gumpalan awan. Seakan semuanya berubah menjadi putih. Menit demi menit berlalu kesadaranku berangsur-angsur pulih. Namun kini yang tersisa adalah rasa lelah dan kantuk. Ketika aku membuka mataku kulihat wajah mbak Narti di hadapanku sambil tersenyum kepadaku.

“Gimana? Masih pingin lagi?” tanyanya. Belum lagi aku menjawab seketika itu juga kurasakan penis mang Gimin kembali bergerak maju mundur menyodok-nyodok vaginaku. Sepertinya ia belum puas jugamenghajarku.
“Mbakk.. Sabrinaa ngantukk...”jawabku lirih diantara rasa nikmat akibat gerakan mang Gimin dan rasa kantuk
“Kang..sudah dulu. Sepertinya non Sabrina sudah kecapekan.”
“Sekali lagi ajahh..uhh uhh” jawab mang Gimin masih secara intens memaju mundurkan pinggulnya. Ia nampaknya masih bersemangat sekali padahal ia juga sudah berkali-kali pipis enak tadi.
“Kang! Kasihan si non. Diakan masih harus ke sekolah besok...kalau kakang mau diterusin sama saya saja!.”lagi-lagi Mbak Narti mengingatkan mang Gimin.
“Iya juga he he he” ujar mang Gimin setelah melihat kondisiku yang  terkulai tanpa daya.
Lalu Ia menghentikan sodokannya namun ujung penisnya tetap ia biarkan mengeram di dalam vaginaku. Ternyata melakukan sebuah keintiman itu sangat meletihkan meski aktifitas peting tadi lebih banyak di motori oleh mang Gimin sementara aku sendiri di posisi yang pasif. Namun tenagaku benar-benar habis oleh kekejangan-kejangan saat orgasme melandaku secara nonstop tadi. Dan kini rasa kantuk yang kuat menyergapku seiring kenyamanan pasca-orgasme. Aku masih tetap tergolek menyamping di ranjang mereka di antara ke dua suami-istri itu. Mang Gimin mendekap pinggangku dari belakang sementara mbak Narti berada di depanku. Aku taklagimempunyai sisa tenaga buat berjalan menuju ke kamarku. Keinginanku saat ituhanya satu. Langsung tidur.
“Ndak pa pa. Tidur saja di sini non”ujar Mbak Narti sepertinya maklum dengan kondisiku. Ia lalu menutupkan selimut ketubuh telanjangku.
“Makasih mbak….” bisikku
“Iya” Mbak Narti tersenyum
“Sama mamang juga…”bisikku lagi.
“Tuh kang. Kakang dengar tidak?. Barusan  si non bilang terima kasih ke kakang” Sambung mbak Narti. Mbak Narti membelai-belai rambutku sehingga kesadaranku semakin menjauh.
“Enak ya kang?” Tanya Narti kepada mang Gimin. Samar-samar aku masih dapat mendengar ia berdialog dengan suaminya.
“Jelas enak toh nduk. Sayangnya cuma bisa di celup.”
“Jangan serakah, kang! Di awal tadi kita sudah sepakat dan kakang juga sudah berjanjin dak bakal merusak ‘segel’-nya si non sebab walau bagaimanapun dia itu putri majikan kita. Sudah untung kakang bisa ngerasai segitu itu!” ujar Narti mengingatkan suaminya itu. Rupanya mang Gimin berhasrat menusukan penisnya  secara penuh ke dalam vaginaku.
“Iya, kakang tahu itu. Kakang kan cuma berandai-andai toh nduk. Habis baru kali ini kakak begituan sama gadis seperti dia. Sudah molek, punya kulit putih bening, terus body ne manteb lagi!.” ujar mang Gimin merinci satu persatu apa saja yang dimiliki tubuhku yang membuatnya kagum.
“Iya. mirip bule banget nona kita ini ya, kang. Sampai jembutnya saja rada-rada pirang gitu” mbak Narti menimpali. Menit demi menit berlalu. Dan aku tak lagi bisa mendengar percakapan mereka ketika kantukku sudah menutup semua pancaindraku.

###########################-

Begitulah awal dari hubungan antara aku, mbak Narti dan mang Gimin. Pasangan suami istri itu telah membukakan gerbang kedewasaanku malam itu sekaligus merengut kesucianku meski secara teknis aku masih tetap perawan. Secara perlahan aku mulai mengerti  soal keintiman di antara seorang lelaki dan wanita. Sejak kejadian malam itu pula tiada lagi hari dan malam tanpa petting. Aku sungguh menjadi ketagihan dan  tak malumeminta kepada Mang Gimin untuk mengulangi kenikmatan tersebut.Bahkan kini kami melakukannya di dalam kamarku. Mbak Narti selalu mengikuti jadwal mens-ku secara ketat sehingga ia tahu persis kapan saat diriku sedang dalam keadaan subur atau tidak. Bila tengah datang masa suburku maka mang Gimin tak ia perbolehkan memuncratkan pejuhnya di dalam vaginaku. Mang Gimin hanya bisa menuntaskannya pada mbak Narti. Dengan bimbingan mbak Narti aku jadi mengenal banyak hal baru tentang seks. Seperti melakukan seks oral! Awalnya aku agak syok ketika melihat mbak Narti melahap penis mang Gimin tanpa rasa jijik seakan benda itu adalah sebuah lolipop yang lezat.Tetapi lama kelamaan aku justru ingin mencobanya. Hingga pada suatu malam kulihat mereka saling menjilat kemaluan satu sama lain. Mang Gimin terlentang di bawah tindihan tubuh mbak Narti tengah mengobok-obok vagina istrinya dengan mempergunakan jemari dan lidahnya. Sementara mbak Narti sendiri berada di atas tubuh mang Gimin dengan mulut terbuka lebar  disesaki oleh penis suaminya itu.Mbak Narti bilang yang sedang mereka lakukan itu namanya posisi enam sembilan. Setelah mencontohkannya padaku akhirnya tiba giliranku buat mencobanya. Ternyata asyikk sekali. Kami dapat enaknya barengan. Selagi aku orgasme mang Gimin memuntahkan pejuhnya di mulutku. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi lendir enaknya mang Gimin. Dan menurutku itu lezat sekali. Satu hal lagi akupun jadi tahu persis soal anatomi alat vital lelaki. Ukuran penis mang Gimin ternyata punya panjang tujuh belas senti ketika iseng-isengaku ukur benda itu pakai mistar sedangkan diameternya lebih besar sedikit dari  lingkaran yang dibuat oleh ibu jari dan telunjukku. Kata mbak Narti penis mang Gimin lebih panjang dari penis pacarnya terdahulu. Mang Gimin juga memiliki stamina bak kuda liar meski mungkin orang bisa tertipu oleh penampilan fisiknya. Dan yang teristimewa dari mang Gimin sekaligus membuat mbak Narti tergila-gila padanya adalah otot-otot Tantra-nya yang kuat. Penisnya yang tengah mengacung akan melenting kuat ke atas dari posisi sedikit menggantung hingga menghantam perutnya bila ia kedutkan. Bayangkan...betapa nikmatnya bila benda itu di hentakan kuat-kuat seperti itu saat dia berada di dalam  liang senggama. Aku sendiri sudah pernah merasakan kehebatan mang Gimin itu saat ia mempetingku. Semenjak itu pula aku jadi tak lagi bisa menerima tamu cowok di rumah. Sebagai seorang gadis rupawan sekaligus merupakan primadona di sekolahku jelas banyak sekali pemuda yang ingin mendekatiku. Tetapi mereka semua selalu berhasil dihalau oleh mang Gimin sekalipun mereka cuma beralasan ingin mengerjakan tugas kelompok. Meski demikian aku tak ambil pusing terhadap sikap protektifnya. Entah mengapa semenjak dicabulinya aku sendiri tak merasa tertarik bergaul dengan pria lain apalagi sampai menjalin hubungan cinta-cintaan. Bagiku mang Gimin seorang sudah sangat cukup komplit. Dia supirku, teman bercandaku, pelindungku sekaligus kekasihku.

“Dasar cowok kota bisanya cuma ngejual tampang sama ngehambur-hamburin duit orang tua saja!“ ocehnya pada suatu sore setelah mengusir seorang cowok teman sekelasku yang mencariku.
“Kang..kang! Biarkan saja orang mau bertamu. Lagian wajar saja banyak lelaki yang dateng. Lah wong Nona kita itu emang ayu kok!”
“Kamu itu ndak ngerti, Nar!. Aku cuma mau melindungi nona kita dari para lelaki iseng”
“Dari mana kakang tahu kalau mereka itu lelaki iseng?”
“Ya dari nganu…eng..yaa itu!” ujar mang Gimin tak bisa menjemukan jawaban yang pasti.
“Itu! Nganu! Bilang saja kalau kakang cemburu sama mereka. Takut nona kita kecantol sama salah satu dari mereka. Ya kan?!”cibir mbak Narti.
Mang Gimin hanya nyengir malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena mbak Narti mampu menebak pikirannya dengan tepat.Sementara aku sendiri tertawa geli mendengar perdebatan kedua suami-istri itu.
“Iya sih, Nar. Aku memang cemburu sama pemuda-pemuda itu...” masih kudengar ucapan bernada lesu mang Gimin kepada mbak Narti.
Ia letakan sapu lidinya dan duduk di atas sebuah batu. Mbak Narti menggeleng-gelengkan kepala melihat suami tuanya itu bertingkah bagai seorang pemuda yang tengah kasmaran itu.
“Kang! Kakang itu ngaca dulu dong!. Kakang ndak bisa berharap memiliki dia seperti aku dan istri-istri kakang dulu. Bagaimanapun juga non Sabrina itu pantas mendapatkan jodoh yang sepadan buatnya. Dan suatu hari nanti hal itu pasti akan datang juga.” Timpal mbak Narti. Jelas pembicaraan itu tengah membahas diriku.
“Aku tahu nduk. Tapi... setidaknya aku pingin sekali jadi yang ‘pertama’ buat non Sabrina, nduk! Nona kita itu membuat aku serasa muda kembali”
“Kubur saja angan-anganmu itu, kang! Bukankah sudah dia katakan jika dia ndak mau memberikan yang satu itu kepada kakang. Justru sebaliknya saya kuatir non Sabrina bakal membenci kakang jika kakang nekat melakukannya! Saya heran sekali kakang ndak pernah puas. Masih untung saya mau membantu hasrat terpendam kakang itu ”
“Aku bakal menunggu saat yang tepat nduk. Sampai dia merasa ‘siap’ dulu untuk yang ‘satu’ itu.”
“Hhhhhhh... Terserahkang Gimin! Pokoknya aku sudah mengingatkan!.  Kalau ada apa-apa kang Gimin tanggung sendiri resikonya.”

Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Aku  mengerti dengan maksud pembicaraan mereka. Rupanya hasrat besar mang Gimin kepadaku sudah ada sejak lama. Kesempatan itu baru bisa terlaksana akibat rasa penasaranku dan atas batuan mbak Narti. Namun mbak Narti menghargai prinsip dan keinginanku untuk tetap mempertahankan keperawananku. Sebenarnya aku sendiri terkadang kepingin juga merasakan bila vaginaku dipenetrasi secara penuh oleh penisnya mang Gimin. Dan aku tahu kenikmatannya pasti jauh lebih besar ketimbang cuma melakukan peting seperti yang sudah aku alami. Apalagi setiap menyaksikan persetubuhan panas mereka berdua. Pekik-pekik kenikmatan mbak Narti begitu mendebarkan. Aku ingin juga seperti dia.. Merasakan kedutan-kedutan besar itu jauh di dalam relung kewanitaanku.. Namun ucapan mami tetap saja membuatku takut melangkah lebih jauh. Aku tak ingin bila dicampakan oleh lelaki yang menjadi suamiku kelak bila ia tahu aku sudah tidak perawan lagi di malam pertama.

#################################

Hubungan aneh diantara kami terus berjalan selama kira-kira beberapa bulan ke depan. Hingga semua ketenangan itu terganggu ketika pada suatu hari mbak Narti secara mendadak memaksa mang Gimin untuk menceraikannya. Aku juga kaget mendengar kabar itu. Selama ini tak pernah satu kalipun aku melihat mereka bertengkar. Jikapun ada itu hanya sebuah perdebatan kecil yang langsung terselesaikan saat itu juga. Aku berusaha mencari tahu penyebabnya dengan bertanya pada mang Gimin. Ia mengatakanbahwa mbak Narti telah main mata dengan mantan pacarnya di kampung dulu yang kini memiliki kehidupan sukses setelah menjadi TKI ke luar negeri. Baru kuketahui juga jika kepada lelaki itu pula mbak Narti menyerahkan keperawanannya. Mereka bahkan sudah berencana menikah setelah mbak Narti mendapatkan izin cerai darimang Gimin.Dengan berat hati mang Gimin terpaksa mengabulkannya. Ia tahu mbak Narti tetap juga akan pergi meski tak ia ceraikan.
"Mbak?! Kenapa tega sekali terhadap Mamang?" protesku pada mbak Narti saat ia sedang mengemasi pakaiannya.
Sepertinya tidak tersinggung dengan ucapanku. Ia hanya tersenyum getir.
"Non...Mang Gimin adalah pria yang baik. Bersamanya hidupku penuh dengan gairah meledak-ledak. Tapi dia bukanlah type seorang  suami apalagi bapak yang ideal bagi sebuah keluarga. Umur mbak semakin hari semakin tua. Seorang wanita hanya memiliki kesempatan selagi ia masih muda. Dan mbak tak ingin semuanya menjadi terlambat." Pada saat itu aku masih belum mengerti dengan ucapannya itu. Baru sekarang aku paham maksud mbak Narti kala itu.
“Saya tidak paham maksud, mbak?”
"Hhhhhhh.....” kudengar ia menghela napas “Kamu ini masih bau kencur, non. Kelak kamu akan mengerti maksudku”
"Tapi kasihan mamang sendirian..."ujarku. Aku masih belum menerima ia meninggalkan mang Gimin. Aku mengganggap mbak Narti telah salah melakukan hal ini. Dan aku sungguh berharap ia mau berubah pikiran dan mengurungkan kepergiannya.
“Percayalah....meski mbak pergi namun mang Gimin ndak bakal kesepian sebab dia sudah punya pengganti diri mbak yang jauh lebih baik"
"Ganti? Siapa yang Mbak maksud?" tanyaku. Aku sempat mengira kemungkinan yang dimaksudkan mbak Narti itu adalah salah satu istri mang Gimin yang lain.
"Ya orangnya itu kamuu toh nduk!"jawab Mbak Narti sambil mencubit pipiku gemas
"A aaku, mbak?"
“Iya kamu. Hi hi hi” ujarnya sambil  memperdengarkan tawa khas-nya.
Aku justru bertambah bingung namunaku tak tahu harus berkata apa-apa lagi saat ia ‘mengangkat kopernya.
Nah Non, mbak pamit dulu sekarang. Dan mbak titip mang Gimin padamu,ya...” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku ikut-ikutan jadi terharu. Tak kusangka ternyata mbak Narti masih memiliki perhatian terhadap mantan suami tuanya itu.
Keputusan mbak Narti benar-benar sudah bulat dan tak dapat dicegah lagi. Akhirnya dia pergi meninggalkan kami hari itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar