Senin, 03 Desember 2012

Tamara Blezinsky - Hidden Diary 2

"Ohh.. ohhkh.." Tamara melenguh penuh nafsu. Tubuhnya yang telanjang bulat mengangkangi penis Pak Abdul yang terlentang di atas ranjang. Tamara menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Pak Abdul yang membenam di dalam vaginanya terkocok dengan hebat oleh vagina yang sudah basah itu sampai menimbulkan bunyi berdecak. Sementara Pak Abdul mengerang-erang merasakan nikmatnya jepitan vagina Tamara yang membetot penisnya kuat-kuat.
"Ohh.. terus Tam.. Ayo.. terus.. Genjot terus.." terdengar Samy memberi semangat pada Tamara. Dia sendiri sibuk merekam adegan persetubuhan antara Tamara dengan penjaga villa yang sudah tua itu. Pak Abdul kemudian menarik tubuh Tamara sampai menempel dengan tubuhnya sendiri dan mendekap tubuh mulus yang telanjang bulat itu. Sambil bibirnya sibuk melumat bibir Tamara, penis Pak Abdul terus menyodok vagina artis cantik itu.
Tidak puas dengan gaya itu, Pak Abdul lalu menyuruh Tamara untuk menungging dengan posisi merangkak. Pantat Tamara yang padat terlihat membulat dengan posisi semacam itu.
"Ohh.. pantatnya Mbak Tamara montok banget nih.." Pak Abdul mengelus-elus pantat yang putih mulus itu dan meremasinya dengan gemas. Dia lalu mengarahkan penisnya kembali ke liang vagina majikannya yang seksi itu.
"Ehhk.. ohh.." Tamara merintih saat penis Pak Abdul kembali melesak ke dalam liang vaginanya.
"Ohh.." Pak Abdul mengejang dan mengerang tertahan. Lalu sambil mencengkeram pantat Tamara, Pak Abdul kembali menggerakkan pantatnya, membuat penisnya kembali menyodok vagina Tamara. Pak Abdul juga menggerakkan pantat Tamara maju mundur membuat penisnya makin gencar menyodok-nyodok vagina artis cantik itu. Gerakan Pak Abdul membuat tubuh Tamara tersentak-sentak maju mundur, payudaranya yang terkenal indah bergoyang-goyang menggemaskan mengikuti gerakan tubuhnya yang telanjang.
"Ohh.. ohh.. ahh.. aahh.." Tamara mengerang dan merintih bagai orang gila. Wajahnya tampak kepayahan dan merah padam menahan desakan seksualnya yang kian menggebu. Selang sepuluh menit bersenggama, Tamara merasakan orgasmenya kembali meledak.
"OHHKKH.. OHHGGH.. AHH.. AHH.." Tamara melenguh dan mengejang kuat sambil menggigit bibirnya. Orgasmenya meledak begitu dahsyat seolah meledakkan tubuhnya menjadi ribuan keping. Pak Abdul ikut tak tahan saat dia merasakan vagina Tamara yang berdenyut seperti meremas penisnya keras seperti cengkeraman seorang pegulat.
"Ohhkh.. ohh.." Pak Abdul mengejang-ngejang merasakan kenikmatan yang mengaliri tubuhnya. Seketika spermanya menyembur mengisi rahim Tamara. Selama beberapa detik Pak Abdul menekan penisnya dalam-dalam di liang vagina Tamara untuk menuntaskan ejakulasinya.Keduanya lalu tergolek kelelahan di atas ranjang. Dengan nafas tersengal penuh kepuasan, Pak Abdul mencium bibir Tamara seperti mengucapkan terima kasih. Ini adalah kali kesepuluh Tamara melakukan hubungan seksual dengan kedua pria tersebut. Secara bergantian Samy dan Pak Abdul memaksa Tamara untuk bersenggama baik sendiri sendiri maupun bertiga sekaligus seolah-olah Tamara adalah seorang pelacur murahan. Sepanjang satu hari penuh Tamara terus menerus dipaksa melakukan hubungan seksual oleh keduanya, kadang-kadang mereka juga meminta Tamara menghibur keduanya dengan tarian bugil.

Menjelang tengah malam barulah Tamara diijinkan pulang. Tamara langsung terkapar di ranjang karena kelelahan. Seluruh enersinya seolah terserap habis setelah sehari semalam tubuhnya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu seksual oleh mantan sopir dan penjaga villanya, yang jelas statusnya tidak sebanding dengan dirinya. Sepanjang malam Tamara dihantui mimpi buruk. Dalam mimpinya Tamara merasa Samy dan Pak Abdul mengejar-ngejar dirinya untuk kembali memaksanya melakukan hubungan seks.
Tamara terbangun keesokan paginya dengan tubuh letih. Dia baru merasa segar setelah merendam diri dalam bak air hangat selama beberapa puluh menit. Selesai mandi, Tamara segera berdandan rapi lengkap dengan sapuan make up tipis. Hari ini dia ada jadwal untuk syuting iklan. Memakai kemeja warna hitam dan celana jeans biru agak ketat dan sepatu hitam tumit tinggi membuat kulitnya terlihat makin putih. Tamara baru saja melangkah beberapa meter dari kamarnya saat seseorang menegurnya.
"Mbak Tamara.." tegur orang itu membuat Tamara sedikit terkejut.
"Oh, kamu.." kata Tamara setelah tahu siapa yang menegurnya. Dia adalah satpamnya yang biasa berjaga di depan. Nama 'Robert' tertera pada baju seragamnya. Robert adalah pria kekar yang berasal dari Indonesia timur. Perawakannya hitam, tinggi dan tegap dengan wajah keras. Rambutnya pendek keriting dengan kumis melintang menghiasi wajahnya.
"Ada apa Bob?" Tanya Tamara pendek. Tamara biasa memanggilnya Bob, kependekan dari Robert.
Bob tidak segera menjawab. Dia justru terlihat gelisah, membuat Tamara merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa?" Tamara kembali bertanya, kali ini nadanya cemas, mendadak dia juga ikut gelisah.
"Eh.. ini.. " Bob menyerahkan amplop yang sedari tadi digenggamnya. Tamara menerimanya dengan perasaan curiga. Pelan-pelan dibukanya amplop itu. Mendadak Tamara terdiam membeku seperti patung saat melihat isinya. Foto-foto mesranya dengan Mike Lewis kini seperti berpindah tangan.
"Saya menemukan itu tercecer di lantai." kata Robert datar, tapi ucapan itu membuat perut Tamara seolah terisi oleh timah berat. Sesuatu yang buruk melintas di benak Tamara.
"Eh.. iya.." Tamara tergagap sesaat. "Te.. terima kasih Bob.." Tamara berujar gugup. Apalagi saat dia mendengar jawaban Robert.
"Masa cuman terima kasih sih Mbak?" tanya Robert dengan tersenyum aneh, matanya berkilat-kilat saat mengucapkan hal itu.
"Oh.. iya.." kata Tamara, dia lalu sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Tapi Robert menggeleng, menolak apapun yang akan dikeluarkan Tamara dari tasnya.
"Saya nggak minta uang lho Mbak." kata Robert kalem. Jantung Tamara seperti mencelos mendengarnya.
"Maksud.. maksudmu..?" Tamara tergagap, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Saya minta imbalan dari Mbak Tamara, tapi saya nggak mau uang." kata Robert lancar seolah sudah melatih ini sejak lama. Hal itu membuat Tamara makin gelisah.
"Kamu mau apa dari saya?" Tamara bertanya gelisah.
"Oh, gampang Mbak.." Robert mulai menunjukkan aslinya. "Saya cuma minta Mbak Tamara mau saya ajak begituan juga."

Selama beberapa detik lamanya Tamara terdiam, tapi kemudian dia meledak.
"Kamu gila!" Tamara meraung murka. Foto-foto yang ada di genggamannya dilemparkan ke wajah Robert. Tapi anehnya Robert tenang-tenang saja.
"Kalau Mbak Tamara nggak mau juga nggak apa-apa." ujar Robert santai sambil memunguti foto-foto yang berceceran di lantai. "Tapi kalau foto-foto ini jatuh ke tangan Mas Rafly, Mbak Tamara pasti berubah pikiran." Seperti ada petir yang menyerempet tubuhnya, Tamara langsung terkesiap pucat. Tubuhnya mendadak gemetar.
"Tidak mungkin.." Tamara menggeleng lemah. Sekujur tubuhnya terasa lemas seolah tulangnya terbuat dari karet. Dia merasa kehidupannya terlontar kembali ke beberapa hari yang lalu.
"Gimana Mbak?" tanya Robert, membuat Tamara terbangun dari ketakutan yang mencengkeramnya.
"Jangan Bob.." Tamara berkata lirih. "Jangan berikan foto-foto itu pada Rafly.."
"Jadi Mbak setuju dengan syarat saya?" tanya Robert. Hal itu membuat Tamara kian panik. Tangannya meremas jari jemarinya sendiri, sementara keringat dingin makin deras membasahi tubuhnya. Tamara mendadak merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Bagaimana mungkin dirinya begitu ceroboh membiarkan ada foto yang tercecer. Tamara seolah jadi gila menghadapi semua ini. Dia sudah dipecundangi oleh orang-orang yang sama sekali tidak selevel dengannya.
"Gimana Mbak?" tanya Robert setelah keheningan yang tercipta selama beberapa saat. Tamara tersentak gugup mendengarnya.
"Baik Bob.." Tamara menjawab gemetar. Dia menunduk menghindari tatapan Robert yang seolah telah menelanjangi dirinya. "Saya mau, tapi kamu jangan persulit saya.." jawab Tamara setengah memohon.
"He.. he.. he.. Beres itu Mbak." Robert tertawa penuh kemenangan. "Kalau gitu tunggu apa lagi?" kata Robert lagi, dia lalu menggandeng Tamara dan menariknya ke dalam kamar.
"Jangan sekarang Bob.." Tamara menolak saat Robert menariknya ke dalam kamar. "Saya harus syuting hari ini.."
"Mbak Tamara telat sih nggak bakal dimarahi sutradara." Robert berkata kalem sambil mengunci pintu, membuat Tamara tak bisa menjawab lagi. Selama beberapa saat lamanya Tamara hanya bisa berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Campuran antara marah, muak, takut dan jengkel yang menjadi satu membuat nafas Tamara seolah menyumbat di tenggorokan.
Sementara itu Robert berdiri di hadapannya menatap keindahan tubuh majikannya yang memang sangat indah. Tatapannya terpusat pada bagian dada Tamara yang menonjol di balik kemeja hitamnya.
"Mendekat ke sini dong Mbak." kata Robert sambil memberi isyarat dengan jarinya menyuruh Tamara mendekat. Dan tanpa menunggu Tamara mendekatinya, Robert langsung menarik tubuh Tamara ke dalam pelukannya yang kokoh. Dihimpitnya tubuh Tamara dengan lengannya yang kekar dan didekapkan ke tubuhnya sendiri. Dan tanpa peringatan sama sekali, Robert langsung mendaratkan ciuman yang paling ganas dan paling brutal pada bibir Tamara. Dilumatnya bibir seksi itu dengan sebuah kuluman kuat yang membuat bibir Tamara seolah-olah tersedot ke dalam bibirnya yang kasar. Tamara sampai membeliak dan meronta-ronta merasakan lumatan bibir Robert yang brutal, tapi lengan kekar Robert mendekap tubuh artis cantik itu dengan erat membuat Tamara tidak bisa bergerak sedikitpun. Selama beberapa menit Tamara terpaksa pasrah merelakan bibirnya dilumat habis-habisan oleh satpamnya itu. Selama berciuman Tamara juga merasa lidah Robert mendesak-desak mencoba menerobos ke dalam mulutnya. Dalam keadaan seperti itu Tamara pasrah dengan membiarkan lidah satpamnya tersebut meluncur ke dalam mulutnya. Maka dengan leluasa lidah Robert mengaduk-aduk rongga mulut Tamara, dibelitnya lidah Tamara dengan lidahnya sendiri selama beberapa menit. Tamara tanpa sadar akhirnya merespon permainan Robert, lidahnya membelit lidah si satpam dengan keganasan yang nyaris sama, dan keduanya terus menyatukan bibir mereka seolah tidak ingin dipisahkan.

Sementara bibir dan lidahnya menyerbu bibir Tamara, tangan Robert juga bergerilya menikmati keindahan tubuh artis seksi itu. Tangannya yang kekar bergerilya menelusuri dan menggerayangi punggung Tamara, dan ketika sampai ke daerah pantat, tangan itu langsung mencengkeram bongkahan pantat wanita cantik itu dan meremasinya dengan penuh kegemasan.
Puas menikmati bibir Tamara, Robert lalu menjambret kemeja artis cantik itu sehingga membuat Tamara menjerit kecil. Lalu tanpa merasa perlu membuka kancing kemeja Tamara, Robert langsung menarik kemeja itu dengan kekuatan yang sanggup mematahkan balok kayu, kancing kemeja Tamara langsung terburai menampakkan bagian dada dan perut yang putih mulus.
"Nah. Mbak Tamara sudah nggak butuh baju ini." kata Robert garang. Dia segera melolosi kemeja itu dari tubuh Tamara, lalu dengan keganasan yang sama, Robert segera membetot BH Tamara sampai BH itu jebol dan lepas dari tubuh Tamara. Sepasang payudara indah yang bulat dan padat segera mencuat telanjang di depan mata, seolah menunggu untuk dijamah, membuat birahi Robert menggelegak dengan cepat.
"Ohh.. montoknya.." Robert meneguk ludah dan mendengus-dengus penuh nafsu menatap keindahan payudara Tamara yang telanjang. Bentuknya yang bulat dan padat membuat Robert tidak tahan lagi untuk segera menjamahnya. Dielus-elusnya payudara yang kenyal itu seolah ingin menaksir nilai keindahannya. Lalu dengan kekuatan mirip cengkeraman seekor gorila, Robert mulai meremas-remas payudara indah Tamara, membuat artis itu meringis antara sakit bercampur geli.
Tidak cukup hanya dengan belaian dan remasan, Robert kemudian mulai mendaratkan ciuman dan jilatan pada kedua belah payudara Tamara membuat wanita cantik itu merinding merasakan sesuatu yang basah menari-nari di atas payudaranya.
"Ohh.. ohhk.. nhh.. nhh.. ohhh.." Tamara mulai merintih-rintih merasakan rangsangan yang diberikan oleh satpamnya itu. Lidah Robert kemudian bergerak menjilati puting payudara Tamara dengan ganas. Disentil-sentilnya puting yang mulai mengeras itu dengan ujung lidahnya sambil sesekali digigiti menggunakan bibir, sementara tangan kekarnya juga tidak berhenti meremasi payudara indah itu.
Dirangsang sedemikian gencarnya oleh Robert dengan permainan yang sangat lihai membuat birahi Tamara pelan tapi pasti mulai menggelegak. Robert melihat perubahan pada diri Tamara. Wanita cantik itu mulai megap-megap dan wajahnya merah padam menahan desakan nafsu yang membakar tubuhnya.
Mendapat apa yang dicarinya, Robert membimbing Tamara menuju ranjang, lalu membaringkan tubuh Tamara yang setengah telanjang di sana. Kedua tangan Tamara diaturnya pada posisi di atas kepala sehingga dia bisa dengan leluasa menggeluti kembali sepasang payudara montok artis cantik itu. Payudara mulus itu diremasi, dijilati dan dikenyot dengan segala macam cara yang bisa dia lakukan.
Kemudian Robert mulai mengarahkan tangannya ke bagian bawah. Dia mulai membuka kait celana jeans yang dipakai Tamara.

"Jangan Bob.." Tamara berujar lirih saat Robert mulai memelorotkan celana jeans yang dia pakai. Tapi pengaruh rangsangan yang dialaminya membuat Tamara hanya bisa pasrah, maka dengan mudah Robert menarik celana jeans itu lepas dari tubuh Tamara, menyisakan selembar celana dalam putih tipis berenda nyaris transparan yang menutupi daerah kemaluan Tamara.
"Ohh.." Robert tertegun sambil meneguk ludah melihat kemolekan dan kemulusan tubuh Tamara yang hanya tinggal mengenakan celana dalam. "Mulus.. ohh.. montok.." Robert menggumam tak jelas ketika mengelus-elus paha Tamara yang sehalus pualam, membuat Tamara merinding.
"Kayaknya bakal lebih hot kalau.."
Robert menjambret celana dalam Tamara lalu menarik celana dalam itu kuat-kuat. Diiringi suara kain robek, celana dalam Tamara langsung tercabik membuat pakaian terakhir yang melekat di tubuh mulus Tamara lepas. Kini artis cantik itu sudah sepenuhnya telanjang.
"Ohh.. gila.. mulus banget.." Robert panas dingin menyaksikan wanita yang selama ini begitu ingin dia telanjangi sekarang sudah benar-benar telanjang bulat di hadapannya, begitu pasrah untuk diapakan saja. Tapi tampaknya Robert tidak mau terburu-buru dalam mengerjai Tamara. Robert mengangkangkan kaki kedua kaki Tamara membuat vagina artis seksi itu membuka lebar, maka dengan leluasa Robert mulai mengobok-obok daerah paling rahasia Tamara dengan tangannya. Dielus-elusnya dan diremasinya daerah kemaluan Tamara yang licin tak berbulu, membuat Tamara menggeliat dan mendesah nikmat. Desahan Tamara kian keras saat Robert memasukkan jari tangannya ke dalam liang vagina artis itu sambil mengaduk-aduk liang vagina itu dengan gerakan kasar.
"Oohh.. ohh.. aahh.. ahh.." Tamara mengerang dan menggeliat tak terkendali merasakan rangsangan Robert yang mengaduk-aduk vaginanya. Tubuh Tamara langsung mengeras, tangannya mengepal mencengkeram seprai seolah akan merobek seprai itu.
Mengetahui rangsangannya berhasil, Robert makin bersemangat. Dia makin gencar mengaduk-aduk dan mengocok vagina Tamara, apalagi ketika dia menyentuh klitoris Tamara yang membuat Wanita cantik itu kian tersiksa oleh desakan orgasmenya yang kian menggebu.
"Ayo.. Jangan ditahan Mbak.. Keluarin aja.. Ayo.." Robert menyemangati Tamara sambik terus mengobok-obok vagina artis seksi itu, membuat Tamara makin tak tahan.
"Nnhh.. ngghh.. oohggh.. ohh.." Tamara melenguh sambil menggigit bibir. Rangsangan Robert dirasakan kian hebat menyiksa sekujur syarafnya yang sudah menegang. Akhirnya Tamara menyerah pada libidonya yang kian meledak, tubuhnya kembali mengejang keras dan melengkung kaku sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali.
"OHHHKKH.. OHHH.. AAHH.. AAHH...!! Tamara mengerang keras, gelombang orgasme kembali menghantam seluruh syarafnya. Wajah Tamara memerah dan menegang seperti balon yang mau meledak. Selama beberapa detik tubuh mulus itu menggelepar-gelepar seperti terkena sengatan listrik, kemudian seperti balon bocor tubuh Tamara kembali melemas.
"Ohh.. yeah.." Robert tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana Mbak..? Enak kan?" tanya Robert. Tamara diam saja, nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja lolos dari kejaran singa. Tamara merasa tubuhnya sangat letih sekaligus juga merasa amat puas. Dia tidak bisa membantah kalau dirinya memang mendapatkan kenikmatan orgasme yang gila-gilaan.

"Sekarang gantian, Mbak Tamara yang puasin saya." ujar Robert sambil melucuti pakaiannya sendiri. Sebentar saja satpam itu sudah bertelanjang di hadapan Tamara. Tubuhnya yang kekar tampak hitam legam. Ada bekas luka di dadanya yang bertato motif tribal. Tubuh Robert tampak begitu kuat dan kokoh. Tamara tertegun melihat penis Robert yang berdiri tegang. Begitu legam dan kokoh, ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan penis Samy membuat Tamara merinding.
Robert lalu berlutut di depan Tamara yang terlentang pasrah. Ditariknya kedua kaki Tamara ke arah luar, membuat vagina Tamara terkuak. Kemudian dia menindih tubuh putih mulus itu. Tamara merasa udara di dalam tubuhnya terdesak keluar saat tubuh Robert yang tinggi besar itu menindih tubuhnya. Dirasakannya tangan Robert yang kekar mencengkeram pundaknya seolah menekan tubuhnya ke bawah. Tamara juga merasakan benda tumpul menggesek-gesek celah vaginanya berusaha masuk ke dalam liang vaginanya. Sementara Robert dengan nafas mendengus-dengus mendorong-dorong pantatnya, memaksa penisnya menerobos ke dalam vagina Tamara.
"Ohhkk.. Ohh.." Tamara menjerit kesakitan saat penis Robert yang luar biasa besar membenam di dalam liang vaginanya. Tamara merasa seolah vaginanya terbakar dan terbelah ketika penis itu mendesak masuk. Meskipun vaginanya sudah basah oleh cairan orgasme, tapi karena ukuran penis Robert yang di luar batas membuat Tamara kesakitan. Tapi Robert tampaknya tidak peduli. Dia terus berusaha mendorongkan penisnya sampai terbenam ke dalam vagina Tamara.
"Ohh.. Sempit banget.." Robert mengerang saat penisnya membenam seluruhnya di dalam liang vagina Tamara. Tamara merasakan bagian bawah perutnya seperti ditusuk oleh besi membara. Dia sampai meneteskan air mata menahan rasa sakit yang mendera daerah kemaluannya. Tamara bahkan berusaha melebarkan kakinya selebar mungkin untuk mengurangi rasa sakit itu meskipun sama sekali tak ada manfaatnya.
"Ohkk.. sakiit.. sakit Bob.. oohh.." Tamara merintih ketika Robert mulai menarik dan mendorong penisnya menyodok vagina Tamara. Meski bukan perawan lagi, tapi vagina Tamara memang terlalu sempit untuk menampung penis Robert. Tapi pelan-pelan vagina Tamara mulai menyesuaikan diri untuk menerima penis besar Robert meskipun Tamara harus menjerit-jerit kesakitan setiap kali penis besar itu menggenjot vaginanya.
"Ahkk.. ohh.. sakiit.. sakiit.." Tamara menjerit dan meronta-ronta. Baru saat inilah Tamara benar-benar merasakan mengalami perkosaan yang sesungguhnya. Penis Robert dirasakannya bagai tongkat berduri yang menghancurkan vaginanya. Tapi meskipun kesakitan, pelan-pelan Tamara juga merasakan sebuah sensasi kenikmatan aneh yang mengaliri tubuhnya. Birahinya seolah terpuaskan oleh penis Robert yang luar biasa itu. Pelan tapi pasti, rintihan kesakitan Tamara mulai berubah menjadi desahan-desahan manja. Vaginanya sekarang sudah mampu menerima sodokan penis Robert. Robert juga makin lancar menggenjot vagina Tamara. Gerakan sodokan penis Robert makin lama makin cepat dan ganas membuat Tamara melenguh-lenguh penuh nikmat.

"Ohh.. ohh.. ahh.. ahh.. nnhh.. nghh..ohh.." Tamara menggeliat-geliat menikmati setiap sodokan penis Robert pada vaginanya. Kepalanya menggeleng liar dan tangannya mencengkeram pundak Robert dengan keras sampai kuku jarinya menggores pundak kekar itu. Hal itu membuat Robert justru makin bersemangat dalam menggenjot vagina Tamara. Gerakan penisnya makin ganas membuat tubuh Tamara yang mulus tersentak-sentak di bawah tindihan tubuh Robert yang tinggi tegap.
Selama hampir sepuluh menit Robert memacu tubuh mulus Tamara. Penisnya yang besar memompa vagina artis cantik itu dengan gila-gilaan membuat pertahanan Tamara jebol.
"AHHHGGHH.. AAHH..." Tamara mengerang keras, tubuhnya menggeliat kuat seperti akan mengangkat tubuh hitam tegap ya tengah menindihnya, tapi tangannya mencengkeram pundak kekar Robert kuat-kuat membuat kuku jarinya menancap makin dalam melukai punggung satpamnya tersebut. Wajah Tamara berubah merah padam, tubuhnya mengejang seolah sedang mencoba mengeluarkan telur sebesar bola sepak dari tubuhnya. Tamara menggigit bibirnya mencoba menahan dorongan orgasmenya yang meledak-ledak, tapi gelombang orgasme itu terlalu kuat menghantam syaraf seksualnya.
"OHHHKKHH... OHH...AAHHH...!!" Tamara melolong keras. Tubuhnya bagai patung perunggu, menegang dan mengeras. Cengkeraman tangannya makin keras seperti ingin merobek punggung pria yang sedang menggagahinya. Orgasme Tamara kembali meledak tak tertahankan dan menghantam sekujur syarafnya secara gila-gilaan. Selama beberapa detik tubuh mulus Tamara menggeliat-geliat merasakan kenikmatan orgasme sebelum kemudian tubuh putih mulus itu melemas kembali. Tapi Robert tampaknya masih jauh dari selesai. Penisnya masih kokoh membenam di dalam liang vagina Tamara dan terus menyodok-nyodok vagina artis cantik itu kuat-kuat. Tamara hanya bisa merintih pasrah, membiarkan saja satpamnya itu memompa vaginanya, tubuh Tamara terlalu lemas untuk bergerak. Akhirnya selama beberapa menit tubuh Tamara seperti boneka seks yang tersentak-sentak tanpa daya di bawah dekapan satpamnya yang menggagahinya.
Tidak puas dengan posisi seperti itu, Robert segera bangkit dan menarik tubuh Tamara dari ranjang. Dipaksanya Tamara berdiri mengangkang dengan tangan bertumpu pada tepi ranjang sehingga posisi Tamara agak menungging.
"Ohh.. pantatnya.. Gede, mulus, montok.." Robert membelai dan meremas-remas bongkahan pantat Tamara yang bulat padat, lalu dia kembali mengarahkan penisnya ke liang vagina Tamara.
"Ohhkk.." Tamara merintih saat penis besar itu kembali melesak masuk ke dalam liang vaginanya. Kali ini penis Robert melesak dengan lancar. Vagina Tamara sudah beradaptasi dengan penis besar itu. Meski begitu Tamara tetap merasa kesakitan vaginanya dijejali penis sebesar itu. Tamara mengernyit menahan sakit saat penis Robert kembali menggenjot vaginanya.
"Ahhk... ahh... ohh.." Tamara mengerang antara kesakitan bercampur nikmat. Penis Robert dengan kasar menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Tamara yang membludak seolah berbuih melicinkan gesekan penis Robert pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Tamara sebelah dalam. Robert kian ganas memperkosa Tamara. dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Tamara, penis Robert menyodok vagina artis sinetron cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Tamara kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Tamara menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Robert pada vaginanya. Robert tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Tamara yang menggoyangkan pantatnya sendiri.
"He he he.. Oke juga nih Mbak.." Robert tertawa melecehkan. "Ayo, goyang terus... Ayo.. terus..." Robert menyemangati. Dia lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Tamara.

Secara reflek Tamara langsung menggerakkan pantatnya lebih kuat dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Tamara kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang dia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Tamara terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Robert. Sementara itu Robert juga mengimbangi gerakan pantat Tamara yang kian liar. Robert memegangi pinggul Tamara lalu menarik pinggul yang bulat itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Tamara.
"Ayo.. terus.. goyang terus.." Robert menyemangati Tamara yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Tamara yang montok dengan penuh kegemasan. Tamara kian tak tahan menerima sodokan penis Robert. Perlakuan Robert yang brutal ternyata justru membuat orgasme Tamara lebih cepat meninggi. Tamara merasakan gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya.
"Nhhh... nghh... ohh... ohh..." Tamara melenguh sambil menggigit bibir. Gerakan pantatnya seolah dipercepat beberapa kali lipat, gesekan penis Robert pada dinding vagina Tamara kian cepat sampai menimbulkan suara berdecak keras. Dan kembali tubuh mulus yang telanjang bulat itu mengejang dan menegang kaku. Wajah cantik Tamara merah padam sementara bibirnya mendesis-desis tidak terkendali.
"OHHHKKH... OHHH... AAHH..!!" kembali Tamara mengerang keras. Orgasmenya kembali menggelora, seperti ada seekor singa yang mencakar tubuhnya dari dalam. Vagina Tamara berdenyut kencang seolah menghisap penis Robert dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Robert, penis satpam itu tetap saja berdiri tegak seperti tongkat baja yang tidak bisa lemas. Penis itu terus menyodok vagina Tamara meski wanita cantik itu sudah kepayahan.
Robert lalu mendekap tubuh telanjang Tamara, lalu masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Robert kemudian menunggingkan pantat Tamara, memaksa artis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Tamara yang menungging lebih tinggi dari kepala, Robert makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Tamara, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Robert kembali menggenjot vagina artis seksi itu secara brutal.
"Ahhkh... aahh... oohh..." Tamara merintih-rintih lirih merasakan vaginanya kembali digenjot oleh penis Robert. Tubuh Tamara kian lemas mengalami perkosaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Tamara akhirnya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang bulat tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Robert pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Tamara hanya bisa menggeliat lemah dan menggigit bibir merasakan kenikmatan yang sekaligus sangat menyakitkan.
Tiba-tiba.
"PLAKK!" sebuah tamparan yang luar biasa keras menghajar pantat Tamara, membuat artis cantik itu menjerit kesakitan. Seperti ada seterika panas yang menyentuh pantatnya, tubuh Tamara langsung meronta-ronta. Air mata Tamara kembali mengalir membasahi pipinya. Lalu sekali lagi, dengan kekuatan penuh Robert menampar pantat montok itu.
"AHH..! AHKK..!" Tamara menjerit kesakitan merasakan pedih pada pantatnya, bilur kemerahan langsung menjiplak pada pantat yang putih mulus itu.
"AHH..! SAKIT..! AMPUN..! SAKIIT..!" Tamara meraung-raung kesakitan ketika tamparan demi tamparan mendera pantatnya. Tubuh Tamara menggeliat-geliat liar dan menandak-nandak. Hal itu tampaknya membuat Robert kembali bersemangat. Rupanya cara itu dipakai oleh Robert untuk membangkitkan lagi perlawanan Tamara, terbukti Tamara kembali menggerakkan tubuhnya merespon genjotan penis Robert. Selama hampir sepuluh menit Robert menyetubuhi Tamara sambil menampari pantat wanita cantik itu. Hal itu sungguh membuat Tamara merasa tersiksa. Rasa pedih pada pantatnya diimbangi oleh kenikmatan yang didapatnya dari genjotan penis Robert pada vaginanya.

Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Robert memaksa Tamara kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Tamara ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Robert menyodok-nyodok vagina Tamara. Tamara tidak bisa bergerak dengan posisi seperti itu. Tubuh Robert yang tinggi besar dan hitam legam menindih tubuh putih mulus Tamara dengan ketat. Sodokan penis Robert menggenjot vagina Tamara dengan begitu kasar membuat pantat Tamara sampai terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin.
Tamara yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa pasrah dan berharap perkosaan yang dialaminya ini cepat berakhir. Meski begitu Tamara harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan Robert menggenjotkan penisnya, tubuh Tamara kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah.
"Ohh... aahh..." Tamara mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Robert segera tahu kalau artis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Tamara mencengkeram penis Robert dengan kuat seolah hendak membetot penis itu sampai lepas. Kali ini Robert tidak tahan lagi. Cengkeraman vagina Tamara membuat penis yang sudah begitu ingin berejakulasi itu akhirnya bereaksi.
"Ohh.. oghh.." Robert melenguh seperti kerbau terluka. Wajahnya menengadah dengan mata terpejam. Tubuh hitam legam itu mengejang, lalu Robert mendorong penisnya sedalam-dalamnya ke vagina Tamara membuat wajah cantik Tamara mengernyit kesakitan.
"Ooohhh..." Robert melenguh panjang, dan. "Crt.. crt.. crt.." spermanya segera menyembur deras, mengisi rahim wanita cantik yang sedang digagahinya itu. Begitu banyak sperma Robert menyembur sampai sebagian meleleh keluar membasahi lantai.
Kelelahan tapi puas, Robert akhirnya terkapar di samping tubuh telanjang Tamara. Sementara di sebelahnya, Tamara menangis terisak meratapi nasibnya.
"Ternyata Mbak Tamara memang benar-benar hot.." Robert membelai rambut kemerahan Tamara lalu mengecup pipi wanita cantik itu pelan. "Kapan-kapan kalau saya lagi konak, Mbak Tamara mau kan ngentot sama saya lagi..?" tanya Robert sambil tersenyum penuh pelecehan. Lalu dia segera bangkit dan berpakaian kemudian meninggalkan Tamara begitu saja.
Tamara menangis tersedu-sedu, kehormatannya kehormatannya sebagai artis dan sebagai wanita sudah benar-benar hilang dirampas oleh orang-orang yang sama sekali tak sebanding dengannya. Tamara benar-benar terhina. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak perlakuan mereka. Kedua orang itu, Robert dan Samy punya senjata mematikan yang bisa membuatnya tak berdaya melawan. Akhirnya dengan tertatih Tamara berjalan menuju kamar mandi.
Di lokasi syuting Tamara benar-benar kehilangan konsentrasi. Sutradara, yang sudah marah besar karena Tamara terlambat beberapa jam, jadi makin mudah marah karena begitu banyak adegan yang seharusnya mudah menjadi harus diulang-ulang berkali-kali. Tamara terpaksa menelan kemarahan sutradara dengan pasrah.
Syuting hari itu molor beberapa jam. Tamara baru bisa meninggalkan lokasi syuting jam 10 malam. Sepanjang perjalanan Tamara hanya melamun. Musik yang mengalun dari CD player di mobilnya tidak lagi bisa menghibur kegalauan hatinya yang memikirkan apa yang akan menimpanya setelah ini. Mendadak HP di dalam tas Tamara berdering keras, mengagetkan Tamara dari lamunannya. Nyaris saja Tamara kehilangan kendali atas mobilnya. dengan gemetar Tamara memelankan mobilnya lalu menyalakan HP nya.
"Ha.. halo.." Tamara berkata gemetar.
"Halo Mbak Tamara.." jawab si penelepon. Tamara langsung pucat mendengar suara itu. Bulu kuduknya langsung meremang.
"Mau apa lagi kamu Bob?" Tamara bertanya gugup. Jelas sekali kalau dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya setelah tahu dia bicara dengan siapa.
"Ah.. Mbak Tamara pakai pura-pura lupa.." Robert menjawab kurang ajar. "Biasa kan Mbak. Masa musti dijelasin?"
Tamara makin gugup mendengar ucapan Robert. Tubuhnya terasa panas dingin setelah paham maksud dari perkataan itu. Jelas Robert bermaksud untuk menggagahinya lagi.
"Baiklah Bob." jawab Tamara akhirnya. "Kamu tunggu aja di rumah. Saya sedang dalam perjalanan." kata Tamara dengan suara ditekan seolah sedang mengucapkan sesuatu yang normal.
"Oh, nggak Mbak. Saya nggak mau di rumah." Robert menolak. "Kurang bebas. Mbak ketemu saya di sini." Robert lalu menyebut sebuah alamat dan meminta Tamara untuk datang ke alamat itu. Hal itu membuat Tamara makin gelisah. Dia menduga akan ada rencana jahat yang akan dijalankan oleh Robert. Meski begitu Tamara tidak punya pilihan lain. Dia segera mengarahkan mobilnya ke alamat yang disebutkan Robert. Tapi Tamara tidak menyangka kalau alamat yang dimaksud ternyata mengarah ke sebuah daerah kumuh di pinggiran Jakarta.

Tamara meremang ketika melewati daerah itu. Suasana yang gelap membuat rasa takut menyelinap ke dalam hati Tamara. Deretan rumah yang lebih layak disebut gubuk tampak berjajar tak beraturan. Masing-masing rumah tampak seperti onggokan papan berdiri di keremangan. Satu atau dua berkas cahaya jingga lemah memancar di sela-selanya. Jalan utamanya yang tidak beraspal tampak hancur dan becek. Terlalu rusak untuk dilalui mobil. Tamara terpaksa turun dari mobilnya dan berjalan kaki menyusuri jalan yang rusak itu. Beberapa kali Tamara mengeluh karena kakinya terperosok ke dalam kubangan yang kotor dan bau.
Makin jauh melangkah ke dalam lingkungan itu makin membuat Tamara takut. Situasi di lingkungan itu tidak ubahnya seperti sebuah komplek pelacuran kelas rendah. Jalanannya hanya diterangi oleh lampu yang terlalu redup untuk disebut penerangan jalan. Di beberapa tempat tampak gerombolan pria sedang nongkrong di pinggir jalan, merokok, yang sangat yakin adalah ganja, dan minum minuman keras. Sepanjang jalan itu Tamara merasa seluruh mata pria yang ada di sana memelototi dirinya. Tamara merasa agak beruntung karena suasana sangat remang-remang dan dia sendiri memakai topi dan kacamata gelap membuat jatidirinya tersamarkan.
Ini gila, pikir Tamara dengan jantung dag dig dug luar biasa. Tamara tidak bisa mengerti mengapa Robert menyuruhnya datang ke tempat semacam ini. Tamara juga tidak berani bertanya kepada orang di sekitar situ meski dia tidak tahu di mana harus bertemu dengan Robert. Untungnya Robert menghubungi HP nya dan memberitahu Tamara ke mana harus pergi.
Tempat yang dituju oleh Tamara ternyata terletak di ujung jalan yang berdekatan dengan lapangan luas yang tampaknya merupakan bekas sawah atau kebun terlantar. Tempat itu bisa dibilang sebagai tempat yang paling mewah untuk ukuran lingkungan tersebut. Sebuah rumah petak semi permanen yang terbuat dari tembok dan papan, beratap genteng suram yang sebagian sudah reyot. Tampaknya rumah itu adalah rumah petak yang disewakan kalau melihat bentuknya yang terbagi menjadi beberapa bagian dimana masing-masing bagian memiliki pintu sendiri-sendiri.
Tamara menuju pintu yang paling kiri, yang berhiaskan topeng rangda khas Bali berambut dan berlidah panjang. Agak gemetar Tamara mencoba mengetuk pintunya, tapi belum sempat Tamara mengetuk, pintu itu langsung terbuka. Robert yang hanya memakai celana pendek selutut berdiri di hadapan Tamara. Tanpa menunggu, Robert langsung menarik tangan artis cantik itu dan membawanya ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya.
"Selamat datang di rumah saya Mbak." kata Robert sambil membungkuk ringan seolah menghormat. "Yah, lebih pantas disebut gubuk sih." Sambung Robert. Tamara setuju dengan pernyataan terakhir itu. Gubuk yang menyedihkan tepatnya. Ruangan sepetak itu terbagi menjadi tiga bagian sempit. Bagian paling belakang adalah kamar mandi. Bagian tengahnya dipakai untuk tidur, dilengkapi dengan sebuah kasur yang dihamparkan begitu saja di lantai, dilapisi sehelai seprai tua berwarna kuning pudar.
"Gimana Mbak? Suka nggak dengan tempat ini?" Robert bertanya sambil memeluk tubuh wanita cantik itu dari belakang. Bibir Robert mulai menjelajahi dan menciumi leher serta pundak Tamara yang putih mulus, sementara tangan Robert menggerayangi payudara Tamara yang masih tertutup kaus.
"Ohh... mmhh... ohh..." Tamara mendesah merasakan rangsangan yang diberikan Robert. "Jangan Bob... ohhh... Lepasin..." Tamara meronta pelan ketika tangan Robert mulai mencengkeram payudaranya dan meremasinya dengan ganas.
"Sudahlah Mbak, jangan membantah." Robert terus mendesak Tamara. Dia menyibakkan rambut Tamara yang kecoklatan sehingga tengkuk Tamara yang bening terlihat dengan jelas. Robert lalu mulai menciumi dan menjilati tengkuk artis cantik itu. Rangsangan pada daerah sensitif itu membuat Tamara seperti tersengat listrik. Kakinya langsung lemas saat daerah peka rangsangan itu tersentuh oleh kecupan dan jilatan Robert.
"Oohh... ohh..." Tamara mendesah-desah. "Jangan... ohh.." Tamara menggeliat menolak rangsangan yang diberikan oleh Robert, tapi tubuh dan libidonya tidak bisa dibohongi dan ingin terus menikmati cumbuan dari satpamnya tersebut. Hal itu pula yang membuat Tamara tidak kuasa menolak saat Robert menarik kaus yang dipakainya sampai lepas, membuat tubuh Tamara bagian atas tinggal terbalut BH berwarna putih berenda.

"Ohh.. Mbak Tamara emang punya body yang mantap.." kata Robert saat membalikkan tubuh Tamara sehingga keduanya saling berhadap-hadapan. Kemudian tanpa basa-basi lagi, Robert langsung melumat bibir Tamara dengan sebuah ciuman ganas, sementara tangan si satpam yang kekar meremas-remas payudara montok Tamara dari luar BH yang masih melekat di tubuhnya.
"Ohh... mmhh... mmh... jangan... ohh..." Tamara makin tidak tahan. Dia mendesah-desah merasakan gelombang libido yang kian meninggi. Dia menyambut ciuman Robert dengan bernafsu. Lidah merekapun saling membelit seperti sepasang belut.
Kemudian Robert meraba punggung Tamara dan meraih kait BH yang dipakai oleh wanita itu. Lalu Robert menarik BH Tamara ke bawah sampai lepas dari tubuh yang mulus itu, membuat payudara Tamara yang mulus dan kencang mencuat telanjang. Putingnya yang merah segar terlihat menegang mengundang nafsu, seolah payudara mulus itu berkata 'remasi dan cumbui aku'. Dan segera Robert mencumbui sepasang payudara indah itu dengan remasan dan jilatan. Lidah Robert yang kasar menari di atas puting payudara Tamara, Robert menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara itu, membuat puting yang merah segar itu mengeras.
"Ohh... ohh... nnhh... nhh..." Tamara mengerang tak terkendali merasakan cumbuan ganas Robert pada payudaranya, Robert yang makin ganas sekarang mengenyot-ngenyot dan menghisap-hisap payudara Tamara, membuat dirinya tampak seperti bayi besar. Robert menyusu pada payudara Tamara dengan kenyotan yang ganas, membuat akal sehat Tamara benar-benar dilumpuhkan, sampai-sampai artis cantik itu menurut saja saat Robert mulai menjamah celana panjang jeansnya. dengan kasar Robert memelorotkan celana panjang Tamara sampai lepas lalu merenggut celana dalam wanita cantik itu.
"Ohh... ohh... mulus.." Robert terpana melihat kemolekan tubuh putih mulus Tamara yang berdiri telanjang bulat di hadapannya. Meskipun sudah pernah meniduri Tamara, tapi Robert tetap saja kagum pada keindahan tubuh Tamara yang luar biasa itu.
Robert kemudian menyuruh Tamara untuk berbaring terlentang di atas kasur, dia mengatur posisi kaki Tamara sampai mengangkang seperti orang yang akan melahirkan. dengan posisi seperti itu, vagina Tamara menjadi terkuak sangat lebar. Robert lalu mendekatkan wajahnya ke daerah kemaluan Tamara. Tamara merinding saat merasakan dengus nafas pria itu, yang menandakan wajah Robert sudah begitu dekat dengan vaginanya.
"Ahh..." Tamara mendesah ketika Robert mulai menyapukan lidahnya pada bibir vagina Tamara. Jilatan pertama itu serentak merontokkan penolakan terakhir Tamara. Getaran kenikmatan yang diterimanya membuat wanita cantik itu takluk sepenuhnya. Kepasrahan total Tamara membuat Robert kian bersemangat, dia makin gencar mengobok-obok kemaluan Tamara. Robert menguak bibir vagina Tamara dengan jari-jarinya lalu menjilati liang vagina artis cantik itu. dengan lincah lidah itu mengaduk-aduk liang vagina Tamara membuat birahi Tamara makin tak tertahan.
"Oohh... oohh... aahh... aahh..." lenguhan Tamara kian tak terkendali. Tubuhnya yang putih mulus menggeliat ke kiri ke kanan. Tubuh telanjang Tamara bergetar hebat menahan sensasi orgasme yang kian tak tertahan yang menghantam syaraf seksualnya. Apalagi saat Robert menjilati klitoris Tamara. Tubuh mulus itu bergetar makin liar dan meronta hebat seolah ada api yang memanggangnya. Tidak tahan menerima rangsdngan itu, Tamara akhirnya meledak dalam gelombang orgasme.
"OOOHHHGGHHH......!!" Tamara mengerang keras. Tubuhnya menggeliat makin kuat dan menekuk ke atas membuat payudaranya makin membusung tegak dan bergoyang liar. Wajah Tamara berubah merah, lebih merah dari kepiting rebus. Dia menggigit bibir sambil tersengal-sengal. Tamara merasa tubuhnya seolah diremas oleh kekuatan dahsyat dari arah dalam. Orgasme itu begitu kuat menghantam tubuh Tamara membuat tubuh itu menegang dan menggeliat-geliat cukup lama diiringi oleh cairan kewanitaan yang mengalir keluar dari vagina Tamara. Robert tanpa ragu langsung menjilati cairan vagina itu. Robert percaya jika dia meminum cairan vagina seorang wanita maka selain menambah keperkasaan, juga akan membuat wanita yang bersangkutan akan pasrah padanya.
Tamara yang baru saja dilanda gelombang orgasme terbaring tak berdaya, nafasnya terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhnya membuat tubuh putih mulus yang telanjang itu tampak berkilat tertimpa cahaya lampu. Tubuh itu tergolek pasrah, siap untuk diapakan saja. Melihat kepasrahan Tamara, Robert tidak mau membuang waktu lagi. Dia segera membuka celana pendeknya dan celana dalamnya sekaligus. Penisnya yang berukuran besar segera mencuat tegak. Robert segera menempatkan dirinya di depan kemaluan Tamara yang sudah basah. Diarahkannya penis besarnya ke vagina Tamara. Wanita cantik itu menggeliat lemah saat ujung penis Robert menggesek bibir vaginanya. Robert kemudian memegangi pinggul Tamara, lalu dia mendorong pantatnya maju sambil menarik pinggul Tamara. dengan satu dorongan keras, penis Robert langsung membenam di dalam liang vagina Tamara.

"Ehhhkk..." Tamara merintih sambil menggeliat saat penis besar Robert menembus kemaluannya.wajah cantiknya mengernyit menahan sakit yang mendera bagian bawah perutnya, seolah penis Robert merobek kemaluannya jadi dua.
Perlahan Robert menggerakkan pantatnya. Penisnya yang sudah menyatu dengan vagina Tamara tertarik keluar dengan seret. Vagina Tamara seolah tidak merelakan penis itu dari cengkeramannya.
"Nnhhh... ohh..." Tamara melenguh pelan. Wajah cantiknya mengernyit merasakan gesekan penis Robert pada dinding vaginanya saat Robert mendorongkan penisnya kembali. Penis besar itu kembali membenam di dalam liang vagina Tamara, membuat tubuh mulus artis cantik itu menggeliat. Seketika tangannya memeluk erat pinggang Robert. Robert menanggapinya dengan mencengkeram pundak Tamara. Lalu kembali Robert menggerakkan pantatnya, penisnya mulai menggenjot vagina Tamara dengan gerakan teratur.
"Ohh.. yes.. ohh.. yes.." Robert meracau merasakan nikmatnya bersenggama dengan seorang wanita secantik dan seseksi Tamara Bleszynski. Dekapan tangan kekar Robert makin erat dan sodokan penisnya kian kuat membuat tubuh Tamara mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat. Sodokan penis Robert pada vagina Tamara jelas berhasil membangkitkan kembali birahi wanita cantik itu. Desahan dan erangan kenikmatan meluncur dari mulut Tamara tanpa bisa dicegah.
"Ahhkh... oohh... oohhkh... nnhh...nnhh... ohh..." erangan Tamara makin tak terkendali, tubuh mulusnya menggeliat liar di bawah dekapan satpam bertubuh kekar itu. Desahan yang keluar dari mulut Tamara mulai berubah menjadi desahan manja seolah mengatakan 'jangan berhenti' pada pria yang sedang menggumuli tubuh mulusnya yang telanjang bulat. Robert makin bersemangat mengetahui respon Tamara. Gerakannya makin kuat menggenjot vagina Tamara sampai pantat wanita itu terbanting-banting.
Selama hampir sepuluh menit mereka bersenggama. Birahi Tamara makin memuncak tak terbendung lagi. Tubuh mulus wanita cantik itu menggelepar liar sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali.
"OOOOHHHHKKHH... OHH...!!" Tamara mengerang keras. Seperti ada aliran listrik tegangan tinggi menyengatnya, tubuh Tamara menegang dan bergetar keras. Tangan Tamara makin kuat memeluk punggung Robert, kuku jarinya mencakar-cakar, menciptakan goresan-goresan lecet pada punggung si satpam. Birahi Tamara meledak dahsyat membuat tubuhnya menegang selama beberapa detik.
"Ohh... ohh... yess... ohh..." Robert makin bersemangat menggenjot vagina Tamara. Sodokan-sodokan penis Robert membuat tubuh Tamara tersentak-sentak lemah tanpa daya. Tapi Robert belum puas. Dia memaksa Tamara berdiri dengan agak membungkuk dan tangannya menumpu pada dinding. Robert menyuruh Tamara membuka kedua kakinya sampai vaginanya terbuka lebar. Robert melihat cairan vagina Tamara menetes-netes membasahi bagian dalam paha wanita cantik itu.

Posisi seperti itu membuat pantat Tamara yang bulat padat terlihat makin menantang. Robert tidak tahan untuk tidak meremasi pantat mulus itu. Selama beberapa puluh detik Robert meremasi pantat Tamara, sebelum penisnya kembali membenam ke dalam liang vagina bintang iklan sabun LUX itu.
"Ohhkk... ohh... aahh... aahh... oohh..." Tamara kembali mengerang penuh nikmat ketika Robert menggerakkan pantatnya. Penis besar si satpam kembali menyodok dan menggenjot vagina Tamara. Kali ini gerakan Robert lebih kasar dan tidak beraturan. Kadang penis Robert menyodok dengan gerakan cepat, kadang gerakannya pelan dan kasar. Tubuh mulus Tamara yang telanjang tersentak maju mundur mengikuti irama genjotan penis Robert. Payudara Tamara bergoyang liar tiap kali tubuhnya tersentak maju mundur. Hal itu membuat Robert gemas. Dia segera menjamah sepasang payudara indah yang menggantung telanjang itu dan meremasinya dengan kekuatan mirip cengkeraman gorila. Tamara sampai meringis-ringis kesakitan. Erangan kenikmatannya bercampur dengan jerit kesakitan yang sesekali meluncur lirih dari bibir wanita bertubuh indah itu. Tidak jarang pula Robert mempermainkan puting payudara Tamara. Dipencet-pencetnya dan dipilin-pilinnya puting payudara Tamara yang menegang itu dengan jarinya, membuat birahi wanita itu segera kembali memuncak. Kali ini orgasme Tamara meledak lebih cepat dari sebelumnya. Tubuh bintang sinetron cantik itu kembali menegang dan menggeliat liar.
"Ohhkk... ohh..." Tamara melolong dengan kepala menandak-nandak. Kedua kakinya gemetar seolah tidak mampu lagi menyangga berat badannya sendiri. Cairan vaginanya makin membanjir setelah orgasme untuk kali ketiga.
Tapi meskipun sudah menggagahi Tamara sampai berkali-kali wanita itu mengalami orgasme, Robert sama sekali belum terpuaskan. Penisnya masih saja mencuat tegang, sama kokohnya seperti sebelumnya. Apakah karena pengaruh cairan vagina Tamara yang diminumnya atau faktor lain, yang jelas Robert masih jauh dari selesai. Kemudian dengan kasar dia mendorong Tamara sampai tersungkur ke lantai lalu ditariknya pantat montok artis itu sampai menungging lebih tinggi ketimbang kepalanya yang nyaris menyentuh lantai. dengan posisi itu, Robert sangat leluasa untuk membenamkan penisnya sedalam mungkin pada liang vagina Tamara.
"Ahhk..." Tamara megerang lirih saat penis si satpam yang seperti bor menerobos vaginanya. Rasa nyeri membuat Tamara tak kuasa menahan air matanya. Kembali wanita bertubuh putih mulus itu harus merasakan penderitaan ketika penis Robert menggenjot vaginanya.
Kedua orang yang amat berbeda status itu bersenggama dengan penuh nafsu. Begitu bernafsunya sampai mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengintip dari celah dinding papan dengan tatapan nanar. Mata itu melotot disertai deru nafas yang terengah-engah, sementara tangan kiri si pengintip terlihat sibuk mengocok penisnya.
"Ohh... oghh..." si pengintip meneguk ludah dengan jakun naik turun menyaksikan bagaimana tubuh putih mulus Tamara yang telanjang bulat digenjot berulang-ulang oleh tubuh tinggi besar dan hitam legam. Kekontrasan yang tercipta oleh penyatuan dua tubuh yang amat bertolak belakang itu sangat membangkitkan nafsu, membuat si pengintip tidak rela bahkan untuk sekedar berkedip sekalipun.

"Ohh... ohh... Gila... bagaimana bisa..." ujar si pengintip dalam bisikan amat pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari adegan persetubuhan antara Tamara dengan satpamnya. Selang beberapa menit dia kembali melihat tubuh Tamara menggelepar-gelepar dengan wajah merah padam.
"Oohhkkhh... ohh..." Tamara kembali mengerang, kali ini tidak sekeras sebelumnya karena tenaganya sudah habis terkuras, tapi vaginanya tetap berdenyut kuat meremas dan membetot penis Robert yang membenam di dalamnya. Akhirnya Robert menyerah setelah sekian kali sensasi orgasme vagina Tamara merajam penisnya.
"Ohh... ohh..." Robert melenguh seperti seekor babi, spermanya yang sedari tadi ditahan akhirnya menyembur tak tertahan. Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam vagina Tamara sampai nyaris tak tertampung, sebagian cairan sperma itu menetes-netes membasahi lantai.
"Ohkk... nnhh..." si pengintip ikut mengerang. Rupanya dia juga tidak tahan lagi. Kocokan tangannya akhirnya membuatnya berejakulasi. Spermanya muncrat dan berceceran di tanah.
Selanjutnya selama semalam suntuk Robert terus-menerus memaksa Tamara untuk melakukan hubungan badan. Seolah tidak ada puasnya, Robert terus-menerus menggagahi tubuh mulus artis cantik itu. Tamara tidak bisa berbuat lain kecuali menuruti keinginan Robert. Disamping karena terpaksa, diam-diam Tamara juga menikmati persetubuhannya dengan satpamnya tersebut. Dan sepanjang malam itu pula si pengintip mendapatkan rejeki nomplok, menikmati pemandangan yang amat membangkitkan nafsunya, sesuatu yang barangkali tidak akan didapatkannya kembali.
"Ohh... nhhh... ohh..." Tamara melenguh keras dalam dekapan lengan kekar Robert sementara pantatnya yang padat bergerak naik turun memompa vaginanya sendiri pada penis Robert. Posisi tubuh Tamara yang berada di atas tubuh Robert membuat wanita itu leluasa mengatur irama permainan. Robert menyambut setiap gerakan Tamara dengan kegairahan yang sama.
"Ohh... yeah...teruss... teruss... ayo... lebih keras... ayo..." Robert memberi semangat pada Tamara untuk menggoyangkan pantat Lebih kuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar